Tuhan Buddhis

Taña-Jawab tentaŋ Tuhan Buddhis dalam Pandaŋan Umat Agama Laïn di Indonεsia

Umat Buddha kerap mendapat pertañaan dari umat agama laïn tentaŋ Tuhan vεrsi agama Buddha. Kadaŋkala kita meŋalami kesulitan menjawabña karena konsεp Tuhan dalam agama Buddha saŋat lah berbεda dari agama laïn. Tulisan dalam bentuk taña-jawab di bawah ini dimaxudkan untuk membantu menjelaskanña secara gamblaŋ. Silakan disimak baïkδ.

T: Apa kah agama Buddha meŋenal Tuhan? Apa kah umat Buddha ber-Tuhan?
J : Ya.

T: Apa nama Tuhan dalam agama Buddha?
J : Ada beberapa sebutan untuk Tuhan dalam agama Buddha, yaŋ populεr adalah Säŋhyaŋ Adibuddha.

T: Apa kah umat Buddha meñembah Tuhan? Apa kah umat Buddha berdöa/memohon kepada Tuhan?
J : Tidaq.

T : Meŋapa umat Buddha tidaq meñembah/memuja [berdöa/memohon kepada] Tuhan?
J : Karena Tuhan dalam agama Buddha tidaq dipahami sebagai mahapencipta1), mahapeŋatur2), mahakuasa3) atau suatu sosok4) maüpun zat5).
(Secara siŋkat dapat dikatakan bahwa Umat Buddha tidaq meñembah/memuja [berdöa/memohon kepada] Tuhan karena Tuhan dalam agama Buddha tidaq dipahami sebagai suatu sosok atau tokoh atau pribadi.)

T: Kalau bukan suatu sosok atau tokoh, seperti apa kah Tuhan Buddhis itu?
J : Tuhan itu mutlak, tidaq bersyarat, terbεbas dari waktu, tempat dan këadaan; Tuhan tidaq dapat digambarkan/diceritakan/diteraŋkan sivatδña karena bukan suatu pribadi; Tuhan itu tidaq duniawi maüpun surgawi (lokiya) tetapi di luar duniawi dan surgawi (lokuttara). Tuhan dalam agama Buddha dipahami sebagai:

  • Semesta Hukum Alam (disebut Niyamadhamma yaŋ terdiri atas: utuniyama, bijaniyama, dhammaniyama, kammaniyama dan cittaniyama); semua prosεs yaŋ terjadi di alam semesta meŋikuti hukum semesta (universal law) ini.
  • Peŋεjawantahan Peneraŋan/Bodhi (disebut Tiratana atau Triratna yaŋ terdiri atas: Buddha6), Dhamma7), Saṅgha8)).
  • Buddha tanpa Awal dan Ahir (disebut Adibuddha9)Säŋhyaŋ Adibuddha).
  • Tubuh Dhamma (disebut Dhammakaya atau Dharmakaya). Saŋ Buddha bersabda: Apa tah Tathagatha muncul di dunia ini atau tidaq, Dhamma tetap ada.
  • Tujuan Ahir Umat Buddha (disebut Nibbāna atau Nirvana10)).

Berdasarkan halδ tsb. jelas lah peŋertian Tuhan dalam agama Buddha bukan lah suatu sosok, jadi tidaq muŋkin dipersonivikasikan/dipëroraŋkan.

T: Meŋapa umat Buddha jaraŋ meñebut atau melibatkan Tuhan baïk dalam kebaktian maüpun dalam kehidupan se-hariδ?
J :

  • Karena titikberat (vokus) ajaran Buddha adalah peŋembaŋan batin deŋan melaxanakan perbuatan baïk dan ini menjadi taŋguŋjawab manusia sendiri.
  • Karena Tuhan itu bukan lah suatu pribadi, tidaq lah muŋkin meŋaŋgapña atau mëŋhayalkanña seperti suatu pribadi (yaŋ kepadaña oraŋ berkeluh-kesah, cürhat, memohon bimbiŋan, meminta ampun, petunjuk dsb. - lucu, atuh).

T : ‘Tapi, dalam pandaŋan umum, Tuhan itu begitu berperan dalam kehidupan se-hariδ – meŋapa umat Buddha meŋabaikanÑa?
J : Agama Buddha menolak pandaŋan ini (campurtaŋan “Tuhan yaŋ berpribadi”). Menurut Saŋ Buddha kalau segala këadaan, baïk atau buruk, disebabkan olεh “yaŋ mahakuasa” (issara-nimmāna-hetu)11), andaikata oraŋ membunuh, mencuri, berzinah, berbohoŋ, memvitnah, berkata kasar, membual, serakah, bergunjiŋ dan berpandaŋan salah, maka halδ ini tidaq dapat dihindari karena semuaña se-mataδ disebabkan olεh “yaŋ mahakuasa”. [lihat AN III:61] Pεndεkkata semua perbuatan oraŋ jadi taŋguŋjawab “yaŋ mahakuasa”, bukan taŋguŋjawab oraŋ.

T : Akantetapi, bukan kah manusia perlu sandaran dan bantuan dalam meŋaruŋi kehidupan yaŋ saŋat sulit ini? Kepada siapa kah umat Buddha bersandar dan meminta bantuan?
J : Masalahña, apa kah sandaran dan bantuan “Tuhan” sebagaimana dikatakan oraŋ itu benarδ ada? Itu ‘kan cuma perasaan, cuma hayalan. Lebih rεalistis adalah sandaran dan bantuan dari sesama manusia, dan yaŋ utama adalah diri-sendiri. Dalam Dhammapada 160/XII-4 tertulis:

attā hi attano nātho
ko hi nātho paro siyā
attanā va sudantena
nāthaṃ labhati dullabhaṃ

Diri-sendiri sesuŋguhña adalah pelinduŋ bagi diri-sendiri, karena
siapa pula yaŋ dapat menjadi pelinduŋ bagi diri-sendiri?
Setelah dapat meŋendalikan diri-sendiri deŋan baïk, maka
ia akan memërolεh perlinduŋan yaŋ amat sukar dicari.

T : Lalu bagaimana pandaŋan agama Buddha tentaŋ Tuhan dalam agama laïn?
J : Tuhan dalam agama laïn – sebagaimana yaŋ tercantum dalam kitabsuci merεka – dalam pandaŋan agama Buddha adalah suatu sosok dεwa12) atau brahma13) yaŋ dïakui keberadaanña namun, sebagaimana manusia, dεwa atau brahma ini diceŋkeram tilakkhana (anicca, dukkha, anatta). Jadi, “Tuhan” yaŋ demikian adalah tidaq kekal (anicca) betapa pun panjaŋ usiaña (bolεhjadi sampai jutaan tahun). Karena tidaq kekal, timbul ketidaqpuasan (dukkha). Dan, sudah pasti tanpa inti (anatta) sebagaimana mahluk laïnña. Karena diceŋkeram tilakkhana, “Tuhan” jadi tidaq mutlak, “Tuhan” jadi nisbi (rεlativ). Jadi, umat Buddha tidaq bisa meŋandalkan keselamatanña pada “Tuhan” yaŋ demikian.

Penjelasan:

  1. Mahapencipta – pencipta segala sesuatu, peñebab timbulña semua benda, këadaan & peritiwa.
  2. Mahapeŋatur – peŋatur segala sesuatu, peŋendali semua prosεs.
  3. Mahakuasa – penentu nasib, pembuat takdir, meŋuasaï segala sesuatu.
  4. Suatu pribadi seperti manusia yaŋ sivatña sering digambarkan saliŋ bertentaŋan seperti: peŋasih dan peñayaŋ tetapi juga pencemburu14), pemarah dan pendendam15); pemurah tetapi oraŋ mesti me-rεŋεkδ deŋan memelas; pilihkasih16) dan suka mem-bεdaδkan; mahatahu tetapi melakukan percobaan dan bisa meñesal17); pemaav dan peŋampun tetapi juga peŋazab dan pemberi bencana.
  5. Dalam pemahaman Islam, Tuhan adalah suatu zat.
  6. Buddha dalam Tiratana bukan lah sosok Buddha nara (berpribadi) seperti Buddha Gotama melaïnkan para Buddha sebagai peŋεjawantahan bodhi yaŋ meŋatasi keduniawian (lokuttara).
  7. Dhamma dalam Tiratana bukan lah kataδ yaŋ terkanduŋ dalam kitab atau konsεfi melaïnkan Empat Tiŋkat Kesucian.
  8. Saṅgha dalam Tiratana bukan lah kumpulan para bhikkhu / bhikkhuni yaŋ belum bεbas dari kekotoran batin melaïnkan pasamuan muridδ Saŋ Buddha (bhikkhu, bhikkhuni, upasaka, upasika) yaŋ suci, bukan individu muridδ Saŋ Buddha.
  9. Adibuddha bukan lah sosok Buddha nara seperti Buddha Gotama, Buddha Kassapa, Buddha Koņāgamana, Buddha Kakusandha dsb., melaïnkan kebuddhaan yäitu keadaan pencapaian peneraŋan atau bodhi sebagai Sammā Sambuddha, Pacceka Buddha dan Savaka Buddha.
  10. Dalam kitab Udana VIII:3 tentaŋ Nibbāna Saŋ Buddha bersabda: Ketahuï lah para bhikkhu bahwa ada sesuatu Yaŋ taqDilahirkan, Yaŋ taqMenjelma, Yaŋ taqTercipta, Yaŋ Mutlak. Duhai para bhikkhu, apabila tiada Yaŋ taqDilahirkan, Yaŋ taqMenjelma, Yaŋ taqTercipta, Yaŋ Mutlak, maka tidaq akan muŋkin kita dapat bεbas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yaŋ lalu. Tetapi, para bhikkhu, karena ada Yaŋ taqDilahirkan, Yaŋ taqMenjelma, Yaŋ taqTercipta, Yaŋ Mutlak, maka ada kemuŋkinan untuk bεbas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yaŋ lalu.
  11. Issara adalah istilah untuk sosok yaŋ mahakuasa yaŋ salahkaprah dïaŋgap sebagai Tuhan.
  12. Dalam kitab Mazmur 90:4 dan 2 Petrus 3:8, dikatakan 1000 hari manusia adalah samadengan 1 hari bagi “Tuhan”. Menurut agama Buddha, perbandiŋan waktu yaŋ mirip seperti itu terjadi di alam dεwa Tusita. Maka, kemuŋkinan terjadi salahkaprah, salahsatu dεwa dari surga Tusita disaŋka “Tuhan”.
  13. Dalam agama Islam ada sebuah hadis qudzi yaŋ menjelaskan “Tuhan” dan asal mula alam raya yaŋ berbuñi: kuntu kanzan makhfiyyan, fa ahbabtu an u’raf, fa khalaqtu khalqan (Pada mulaña, Aku adalah kazanah kesuñian. ‘Tapi taqεlok rasaña Aku terjebak dalam kesuñian, maka ‘Ku ciptakan lah mahlukδ itu.) Peŋertian ayat ini mirip deŋan yaŋ terdapat dalam Brahmajāla Sutta 2:3 – 6 tentaŋ Pandaŋan Salah ke-5 yäitu salahsatu Brahma secara salahkaprah disaŋka “Tuhan”.
  14. Dalam kitab Keluaran 20:4-5 tertulis: Jaŋan membuat bagimu patuŋ yaŋ meñerupaï apa pun yaŋ ada di laŋit di atas, atau yaŋ ada di bumi di bawah, atau yaŋ ada di dalam aïr di bawah bumi. Jaŋan sujud meñembah kepadaña atau bëribadah kepadaña, sebab aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yaŋ cemburu, ... (bersambuŋ ke no. 15)
  15. yaŋ membalaskan kesalahan bapa kepada anakδña, kepada keturunan yaŋ ketiga dan keempat dari oraŋδ yaŋ membenci Aku, ... (bersambuŋ ke no. 16)
  16. tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada be-ribuδ oraŋ, yäitu merεka yaŋ meŋasihi Aku dan yaŋ berpegaŋ pada perintahδKu.
  17. Dalam kitab Kejadian 6:5-7 tertulis: Ketika Tuhan melihat, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatiña selalu membuahkan kejahatan se-mataδ, maka meñesal lah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi dan hal itu memilukan hatiÑa. Bervirman lah Tuhan: “Aku akan mëŋhapuskan manusia yaŋ telah diciptakan itu dari muka bumi, baïk manusia, maüpun hεwan dan binataŋδ melata dan binataŋδ di udara, sebab Aku meñesal, bahwa Aku telah menjadikan merεka”.