Pada upaya pertama mencariña, saya meŋandalkan petunjuk jalan. Ketika itu kami dalam perjalanan pulaŋ dari Sukabumi ke Jakarta dan mampir di Bogor. Di Bogor kami mencoba mencari Cïapus. Setelah mencoba cukup lama dan meñusuri jalan cukup jaüh terñata gagal. Cïapus tidaq ditemukan. Petunjuk jalan terlalu tidaq cukup. Karena kami tiba di Bogor pada sorεhari, dan saat itu hari mulaï gelap, kami memutuskan mëŋhentikan pencarian. Upaya pertama gagal.
Satu-dua tahun kemudian saya bërusaha lagi. Kali ini saya minta petunjuk dari teman kantor saya yaŋ –kataña– pernah ke sana. Dia menjelaskan secara lisan demikian: Dari Batu Tulis bergerak terus, sampai di pertigaan terus lagi, ... nanti akan ketemu pertigaan lagi. Dari pertigaan itu naïk terus lalu akan ketemu pertigaan lagi. Dari situ terus lagi, terus, terus saja, lalu ketemu pertigaan lagi, lalu ... lalu ketemu pertigaan lagi. Êntah berapa kali dia meŋucapkan ‘pertigaan’. Saya tidaq bisa meŋiŋatña. Saya susah meŋiŋat penjelasan lisan yaŋ panjaŋ. Maka, penjelasan teman kantor itu tidaq bisa saya andalkan.
Saya kembali meŋgunakan cara baku untuk mencari letak di daratan ini: peta. Saya pelajari deŋan saxama peta Jawa Barat dan Jabodεtabek. Gawat! Terñata tempat yaŋ bernama Cïapus ada dua: Cïapus Raya yaŋ melaluï Cikarεt dan Cïapus yaŋ melaluï Cïomas. Wihara itu ada di Cïapus yaŋ mana?
Saya putuskan untuk mencoba ke Cïapus Cïomas dulu. Maka pada hari Sabtu pagi taŋgal 18 Juli kami memulaï usaha kedua mencari wihara ini. Perjalanan ke Bogor lancar. Kami menuju ke Batu Tulis dan dari situ kami meñusuri jalan seperti tergambar pada peta. Terñata benar, kami mεmaŋ beberapa kali menemukan pertigaan. Awalña, jalanδ yaŋ kami laluï masih sesuai peta. Kemudian, kami sampai di suatu titik di mana jalan yaŋ kami laluï tidaq lagi terdapat pada peta. Saya meŋandalkan perasaan saja. Tibaδ, saya merasa seperti pernah melaluï suatu jalan yaŋ ada tempat permandian Tirta Zamzam. Saya iŋat, tεmpohari kami mεmaŋ pernah melaluï jalan ini dan tidaq menemukan wihara Saüŋ Paramita. Saya kuatir, kalauδ kami akan meŋalami kegagalan lagi.
Selanjutña, kami meñusuri jalan agaq kecil, cukup mulus, ber-likuδ, naïk-turun dan di kiri-kananña ada pohon bambu seperti waktu itu. Kali ini, waktu kami cukup bañak untuk mencoba lebih jaüh. Saya bertεkad maju terus meski jalanña cukup jaüh. Ahirña, kami menemukan papannama jalan “Cïapus”, dekat sebuah SD. Saya pikir kami hampir sampai. Kami melanjutkan perjalanan deŋan semaŋat. Kami melεwati sebuah pertigaan lagi yaŋ ada paŋkalan ojεkña. Saya agaq ragu, ‘tapi segera memutuskan meŋambil arah lurus saja. Setelah meñusuri jalan jaüh, tidaq ada tandaδ wihara itu. Ketika perjalanan sudah cukup jaüh, sampai di Sukajadi, saya yakin kami salahjalan. Kami berbalik arah. Sesampaiña kembali di pertigaan paŋkalan ojεk, kami bertaña kepada oraŋδ yaŋ ada di situ tentaŋ wihara Saüŋ Paramita. Terñata merεka taü. Merεka memberitahukan kami arah yaŋ harus dtempuh.
Dari pertigaan paŋkalan ojεk bεlok kiri – bukan lurus seperti tadi; setelah sampai di pertigaan lagi lalu bεlok kanan. Taqberapa lama kemudian istri saya melihat di sebelah kiri jalan suatu komplεk baŋunan berpagar yaŋ berciri Buddhis yäitu ada stupa dan bendεra Buddhis. Kami turun dari mobil dan masuk ke dalam komplεk itu. Dan ... ketemu. Terñata itu mεmaŋ wihara Saüŋ Paramita.
Komplεk wihara ini cukup luas, malah bisa dibilaŋ saŋat luas. Tampakña terdiri atas dua kapliŋ tanah –bagian depan dan bagian belakaŋ– yaŋ disatukan. Bagian depan mëŋhadap jalan besar, tanahña ber-tiŋkatδ yaŋ memberi kesan indah has däεrah dataran tiŋgi. Selanjutña ada pagar berpintu yaŋ membatasi bagian luar deŋan kapliŋ belakaŋ. Hari masih pagi, suasanaña sepi. Di bagian depan ada beberapa baŋunan, di antaraña tempat tiŋgal kepala wihara. Saya menuju ke situ. Dari dalam muncul lah Bhantε Subala. Saya memberi salam dan menjelaskan maxud kedataŋan kami. Bhantε memberitahu kami agar memasukkan mobil ke bagian belakaŋ komplεk wihara melaluï pintu kedua.Kita juga bisa laŋsuŋ mencapai bagian belakaŋ ini dari jalan besar deŋan masuk melaluï pintu kedua. Sejaüh duaratusan mεter dari pintu pertama (pintu depan) terdapat papannama “Wihara Saüŋ Paramita” tepat di ujuŋ jalan kecil. Kami bεlok masuk ke jalan itu lalu menemukan pintu gerbaŋ – itu lah pintu kedua (pintu belakaŋ). Kami masuk melaluï pintu belakaŋ lalu bergerak lurus beberapa ratus mεter ke dalam hiŋga sampai di lapaŋan rumput yaŋ luas tempat kami memarkir mobil.
Di bagian belakaŋ terdapat beberapa baŋunan, ada yaŋ berbentuk saüŋ atau gazεbo bertiŋkat (di lantai bawah salahsatuña tergeletak sebuah petimati), berupa pos (seperti pos satpam), dapur umum besar, kamarδ tidur dsb. Bhantε sudah menuŋgu saya. Kami lalu ber-bincaŋδ. Kata Bhantε, däεrah ini adalah Cïapus Sukaresmi. Jadi Cïapus ada 3: Cïapus Cikarεt, Cïapus Cïomas dan Cïapus Sukaresmi!
Pemandaŋan di wihara ini mεmaŋ indah. Di bagian teŋah komplεk ada tamanδ yaŋ luas, juga ada candi. Ada beberapa baŋunan yaŋ ada Buddharupaŋña. Tetapi di sini tidaq ada kebaktian [pada hari] Miŋgu untuk umum seperti wihara laïn. Rupaña wihara ini lebih ditujukan untuk melaxanakan kegiatanδ sangha. Kebetulan pada siaŋhariña akan dïadakan baxos (bakti sosial). Maka, beberapa waktu kemudian dataŋ lah romboŋan pelaxana baxos dari Jakarta (VJDJ). Pantas, petugas dapur umumña sudah bersibuk ria dari pagi.
Ada hal yaŋ meŋejutkan sekaligus menarik yäitu ada bañak sekali anjiŋ di sana! Muŋkin, 20 εkor lebih jümlahña. Ketika kami baru tiba, anjiŋδ itu sedaŋ berbariŋ ber-malasδan menikmati kehaŋatan cahaya matahari pagi. Merεka tidaq memërhatikan bahwa kami membawa anjiŋ pemberanian (pomeranian) kami bernama Tscholky-Kerr. Suatu saat kami melepas Tscholky di lapaŋan. Tibaδ sëεkor anjiŋ meñadari kehadiran Tscholky. Maka segera lah ia meñalak untuk mempermaqlumkan kepada semua anjiŋ di sana akan kehadiran peñusup. Lalu para anjiŋ meŋirim 2 εkor anjiŋ pencari. Istri saya buruδ meñelamatkan Tscholky.
Suasana menjadi kuraŋ ñaman karena para anjiŋ meñalak ber-sahutδan dan anjiŋ pencari berkeliaran deŋan gencar mencari anjiŋ kami. Menjelaŋ tëŋahhari, kami berpamitan pada Bhantε untuk melanjutkan perjalanan kami. Kali ini pergi ke Tajur, pusat per-tas-an di kota Bogor..jpg)
.jpg)
“Hai! Aku kerεn ‘kan? Kupiŋku kupluk sebelah.”.jpg)
Dua εkor anjiŋ salju –pëŋhuni baru wihara Saüŋ Paramita– di dalam kandaŋ.
.jpg)




