Wihara Saüŋ Paramita

Ahirña, bulan Juli lalu kami bërhasil meŋunjuŋi wihara Saüŋ Paramita di Cïapus, Bogor. Sudah sejak lama kami iŋin meŋunjuŋi wihara yaŋ dipimpin Bhantε Subalaratano ini. Sebabña: pertama, dari berbagai sumber kami meŋetahuï bahwa komplεk wihara ini terletak di dataran tiŋgi yaŋ pemandaŋanña indah dan hawaña bagus sehiŋga patut dikunjuŋi; kedua, istri saya seriŋ bercerita bahwa dia dulu pernah beberapa kali pergi ke Cïapus – jadi saya pikir tentu dia kenal baïk daεrah ini sehiŋga tidaq lah sulit untuk mencariña. Upaya pertama meŋunjuŋi wihara ini beberapa waktu sebelumña membuktikan bahwa alasan kedua ini tidaq begitu benar. Istri saya terñata tidak meŋenal baïk daεrah ini sehiŋga tidaq dapat membantu saya mencariña. Akantetapi, ada alasan laïn yaŋ membuat saya penasaran untuk mencariña. Ada sesëoraŋ dalam keluarga ipar saya yaŋ seriŋ me-ŋaïtδ-kan diri deŋan Cïapus. Hεran saya, meŋapa tah tibaδ ada oraŋ yaŋ merasa lebih akrab deŋan wihara ini. Meski sudah lama meŋetahui keberadaanña, saya tidaq taü letak persisña. Maka, bagi saya, menemukan wihara ini menjadi suatu tantaŋan.

Pada upaya pertama mencariña, saya meŋandalkan petunjuk jalan. Ketika itu kami dalam perjalanan pulaŋ dari Sukabumi ke Jakarta dan mampir di Bogor. Di Bogor kami mencoba mencari Cïapus. Setelah mencoba cukup lama dan meñusuri jalan cukup jaüh terñata gagal. Cïapus tidaq ditemukan. Petunjuk jalan terlalu tidaq cukup. Karena kami tiba di Bogor pada sorεhari, dan saat itu hari mulaï gelap, kami memutuskan mëŋhentikan pencarian. Upaya pertama gagal.

Satu-dua tahun kemudian saya bërusaha lagi. Kali ini saya minta petunjuk dari teman kantor saya yaŋ –kataña– pernah ke sana. Dia menjelaskan secara lisan demikian: Dari Batu Tulis bergerak terus, sampai di pertigaan terus lagi, ... nanti akan ketemu pertigaan lagi. Dari pertigaan itu naïk terus lalu akan ketemu pertigaan lagi. Dari situ terus lagi, terus, terus saja, lalu ketemu pertigaan lagi, lalu ... lalu ketemu pertigaan lagi. Êntah berapa kali dia meŋucapkan ‘pertigaan’. Saya tidaq bisa meŋiŋatña. Saya susah meŋiŋat penjelasan lisan yaŋ panjaŋ. Maka, penjelasan teman kantor itu tidaq bisa saya andalkan.

Saya kembali meŋgunakan cara baku untuk mencari letak di daratan ini: peta. Saya pelajari deŋan saxama peta Jawa Barat dan Jabodεtabek. Gawat! Terñata tempat yaŋ bernama Cïapus ada dua: Cïapus Raya yaŋ melaluï Cikarεt dan Cïapus yaŋ melaluï Cïomas. Wihara itu ada di Cïapus yaŋ mana?

Saya putuskan untuk mencoba ke Cïapus Cïomas dulu. Maka pada hari Sabtu pagi taŋgal 18 Juli kami memulaï usaha kedua mencari wihara ini. Perjalanan ke Bogor lancar. Kami menuju ke Batu Tulis dan dari situ kami meñusuri jalan seperti tergambar pada peta. Terñata benar, kami mεmaŋ beberapa kali menemukan pertigaan. Awalña, jalanδ yaŋ kami laluï masih sesuai peta. Kemudian, kami sampai di suatu titik di mana jalan yaŋ kami laluï tidaq lagi terdapat pada peta. Saya meŋandalkan perasaan saja. Tibaδ, saya merasa seperti pernah melaluï suatu jalan yaŋ ada tempat permandian Tirta Zamzam. Saya iŋat, tεmpohari kami mεmaŋ pernah melaluï jalan ini dan tidaq menemukan wihara Saüŋ Paramita. Saya kuatir, kalauδ kami akan meŋalami kegagalan lagi.

Selanjutña, kami meñusuri jalan agaq kecil, cukup mulus, ber-likuδ, naïk-turun dan di kiri-kananña ada pohon bambu seperti waktu itu. Kali ini, waktu kami cukup bañak untuk mencoba lebih jaüh. Saya bertεkad maju terus meski jalanña cukup jaüh. Ahirña, kami menemukan papannama jalan “Cïapus”, dekat sebuah SD. Saya pikir kami hampir sampai. Kami melanjutkan perjalanan deŋan semaŋat. Kami melεwati sebuah pertigaan lagi yaŋ ada paŋkalan ojεkña. Saya agaq ragu, ‘tapi segera memutuskan meŋambil arah lurus saja. Setelah meñusuri jalan jaüh, tidaq ada tandaδ wihara itu. Ketika perjalanan sudah cukup jaüh, sampai di Sukajadi, saya yakin kami salahjalan. Kami berbalik arah. Sesampaiña kembali di pertigaan paŋkalan ojεk, kami bertaña kepada oraŋδ yaŋ ada di situ tentaŋ wihara Saüŋ Paramita. Terñata merεka taü. Merεka memberitahukan kami arah yaŋ harus dtempuh.

Dari pertigaan paŋkalan ojεk bεlok kiri – bukan lurus seperti tadi; setelah sampai di pertigaan lagi lalu bεlok kanan. Taqberapa lama kemudian istri saya melihat di sebelah kiri jalan suatu komplεk baŋunan berpagar yaŋ berciri Buddhis yäitu ada stupa dan bendεra Buddhis. Kami turun dari mobil dan masuk ke dalam komplεk itu. Dan ... ketemu. Terñata itu mεmaŋ wihara Saüŋ Paramita.
Komplεk wihara ini cukup luas, malah bisa dibilaŋ saŋat luas. Tampakña terdiri atas dua kapliŋ tanah –bagian depan dan bagian belakaŋ– yaŋ disatukan. Bagian depan mëŋhadap jalan besar, tanahña ber-tiŋkatδ yaŋ memberi kesan indah has däεrah dataran tiŋgi. Selanjutña ada pagar berpintu yaŋ membatasi bagian luar deŋan kapliŋ belakaŋ. Hari masih pagi, suasanaña sepi. Di bagian depan ada beberapa baŋunan, di antaraña tempat tiŋgal kepala wihara. Saya menuju ke situ. Dari dalam muncul lah Bhantε Subala. Saya memberi salam dan menjelaskan maxud kedataŋan kami. Bhantε memberitahu kami agar memasukkan mobil ke bagian belakaŋ komplεk wihara melaluï pintu kedua.

Kita juga bisa laŋsuŋ mencapai bagian belakaŋ ini dari jalan besar deŋan masuk melaluï pintu kedua. Sejaüh duaratusan mεter dari pintu pertama (pintu depan) terdapat papannama “Wihara Saüŋ Paramita” tepat di ujuŋ jalan kecil. Kami bεlok masuk ke jalan itu lalu menemukan pintu gerbaŋ – itu lah pintu kedua (pintu belakaŋ). Kami masuk melaluï pintu belakaŋ lalu bergerak lurus beberapa ratus mεter ke dalam hiŋga sampai di lapaŋan rumput yaŋ luas tempat kami memarkir mobil.

Di bagian belakaŋ terdapat beberapa baŋunan, ada yaŋ berbentuk saüŋ atau gazεbo bertiŋkat (di lantai bawah salahsatuña tergeletak sebuah petimati), berupa pos (seperti pos satpam), dapur umum besar, kamarδ tidur dsb. Bhantε sudah menuŋgu saya. Kami lalu ber-bincaŋδ. Kata Bhantε, däεrah ini adalah Cïapus Sukaresmi. Jadi Cïapus ada 3: Cïapus Cikarεt, Cïapus Cïomas dan Cïapus Sukaresmi!

Pemandaŋan di wihara ini mεmaŋ indah. Di bagian teŋah komplεk ada tamanδ yaŋ luas, juga ada candi. Ada beberapa baŋunan yaŋ ada Buddharupaŋña. Tetapi di sini tidaq ada kebaktian [pada hari] Miŋgu untuk umum seperti wihara laïn. Rupaña wihara ini lebih ditujukan untuk melaxanakan kegiatanδ sangha. Kebetulan pada siaŋhariña akan dïadakan baxos (bakti sosial). Maka, beberapa waktu kemudian dataŋ lah romboŋan pelaxana baxos dari Jakarta (VJDJ). Pantas, petugas dapur umumña sudah bersibuk ria dari pagi.

Ada hal yaŋ meŋejutkan sekaligus menarik yäitu ada bañak sekali anjiŋ di sana! Muŋkin, 20 εkor lebih jümlahña. Ketika kami baru tiba, anjiŋδ itu sedaŋ berbariŋ ber-malasδan menikmati kehaŋatan cahaya matahari pagi. Merεka tidaq memërhatikan bahwa kami membawa anjiŋ pemberanian (pomeranian) kami bernama Tscholky-Kerr. Suatu saat kami melepas Tscholky di lapaŋan. Tibaδ sëεkor anjiŋ meñadari kehadiran Tscholky. Maka segera lah ia meñalak untuk mempermaqlumkan kepada semua anjiŋ di sana akan kehadiran peñusup. Lalu para anjiŋ meŋirim 2 εkor anjiŋ pencari. Istri saya buruδ meñelamatkan Tscholky.

Suasana menjadi kuraŋ ñaman karena para anjiŋ meñalak ber-sahutδan dan anjiŋ pencari berkeliaran deŋan gencar mencari anjiŋ kami. Menjelaŋ tëŋahhari, kami berpamitan pada Bhantε untuk melanjutkan perjalanan kami. Kali ini pergi ke Tajur, pusat per-tas-an di kota Bogor.

“Hoi! Baŋun! Jaŋan molor melulu! Ada anjiŋ peñusup!”


“Cepat cari anjiŋ peñusupña! Bubar, grak!”


“Pa, Pa, koq cuma moncoŋku yaŋ hitam kayaq Papa?” “Diam, 'naq. Ini pasti garaδ anjiŋ jelεk itu.”

Hai! Aku kerεn ‘kan? Kupiŋku kupluk sebelah.”


“Uaaaa... Hawa di sini segar juga ya, 'Yaŋ.”

Dua εkor anjiŋ salju –pëŋhuni baru wihara Saüŋ Paramita– di dalam kandaŋ.

Єjaan Bahasa Indonεsia Mutahir (2)

Dalam tulisan ini kembali saya jelaskan tentaŋ përaturan Єjaan Bahasa Indonεsia Mutahir.

  1. Huruv E atau e melambaŋkan buñi /e/ seperti: segar, bekas, sabet, lemah, mekar, beras.
  2. Huruv Є (besar) atau ε (kecil) melambaŋkan buñi /é/ seperti: pεrak, cεkεr, hεbat, pεsεk, εsok, lεlεt.
  3. Huruv K atau k melambaŋkan buñi /k/ seperti: kokok, kεrεk, kenεk, kanak, tεtεkbeŋεk.
  4. Huruv Q atau q melambaŋkan buñi /'/ seperti: loaq (loak), pokoq (pokok), kakεq (kakek), nεnεq (nenek), kakaq (kakak), koq (kok), soq (sok), taq- (tak), tidaq (tidak), tokεq (tokek). Huruv ini tidaq bolεh diletakkan di awal kata karena tidaq ada buñiña. (Contoh: Al Quran → Alküran) Nama huruv ini "ki".
  5. Huruv V atau v meŋgantikan huruv f seperti: vaktor, vitnah, uvuk, davtar, huruv.
  6. Huruv F atau f digunakan untuk meŋgantikan huruv gabuŋ ps seperti: kaful (kapsul). Huruv f tidaq bolεh ditempatkan di ahir kata karena buñiña tidaq indonεsiawi. Nama huruv ini "εp-si".
  7. Huruv ganda kh dïubah menjadi h, g atau k disesuaikan deŋan peŋucapan indonεsiawi, seperti: mahluk (makhluk), ahlak (akhlak), halayak (khalayak), husuk (khusyuk), tarig (tarikh), kabar (khabar), iklas (ikhlas). Ini juga mëŋhindari kerancuan deŋan buñi kh yaŋ sesuŋguhña seperti Jεŋis Khan.
  8. Huruv Ŋ (besar) atau ŋ (kecil) meŋgantikan huruv ganda ng seperti: Ŋeŋat (Ngengat), seŋat (sengat), bayaŋ (bayang), lembayuŋ (lembayung). Nama huruv ini "ŋa".
  9. Huruv Ñ (besar) atau ñ (kecil) meŋgantikan huruv ganda ny seperti: Ñamuk (Nyamuk), haña (hanya), añam (anyam). Nama huruv ini "ña". Huruv ini tentu tidaq diletakkan di ahir kata.
  10. Huruv ganda sy tetap digunakan. Peŋucapanña biasa saja tidaq bolεh arabiah. Contoh: syarat, syäir, syukur. Huruv ganda sy tidaq bolεh diletakkan di ahir kata karena buñiña arabiah.
  11. Huruv x digunakan untuk meŋgantikan huruv ks seperti: laxana (laksana), perixa (periksa), taxi (taksi), daxa (daksa). Nama huruv ini "εk-sa". Huruv x tidaq bolεh ditempatkan di ahir kata karena buñiña tidaq indonεsiawi. (Contoh: peŋucapan kata "komplex" sebenarña terdeŋar: kom-plεk-sss.)

Divtoŋ
Selaïn itu ada përaturan tentaŋ penulisan huruv vokal ganda atau divtoŋ. Seperti kita ketahuï divtoŋ adalah gabuŋan 2 huruv vokal yaŋ mëŋhasilkan suatu buñi baru. Lihat larikan di bawah ini.

│ │a │ε │i │e │o │u │
│a│- │aε│ai│ae│aoau
│ε│x │- │εi│x │εo│εu│
│i│x │x │- │x │x │x │
│e│x │x │ei│- │x │eu│
│o│x │oε│oi│oe│- │ou
│u│x │x │ui│x │x │- │


Dari kombinasi 6 huruv vokal, secara tεori dapat dibentuk 15 macam divtoŋ. Namun, yaŋ digunakan dalam bahasa Indonεsia hiŋga kini haña 7 macam yäitu ai, εi, oi, ui, ao, au dan ou, contohña: lambai, hεi, amboi, cihui (kataseru), taogε, pulau, Ou!(kataseru). Akantetapi, ada gabuŋan huruvδ seperti itu yaŋ dïucapkan berbεda yäitu bukan sebagai divtoŋ. Agar tidaq salah meŋucapkanña yäitu agar sesuai deŋan asas dituliskan sebagaimana dïucapkan, dïucapkan sebagaimana dituliskan digunakan lah tanda trεma (titik dua di atas suatu huruv). Tidaq seperti umlaut dalam bahasa Jεrman, peŋgunaan tanda trεma tidaq lah meŋubah buñi suatu huruv melaïnkan meŋubah cara meŋucapkanña terkaït huruvδ di sebelahña. Përhatikan contohδ berikut ini.

Kombinasi a-i contohña:
Divtoŋ: lambai, landai, pandai, mähligai, cukai, kaisar, gemulai, gulai, ramai, serunai, tupai, tirai, masai, gontai, lantai, tuai, dawai
Bukan divtoŋ: air, bai (bayi), baik, cair, gaib, haid, ajaib, kain, kait, lain, laik, main, naik, raih, saiŋ
Kata bërahiran -i : nodai, tandai, curigai, mulai, gulai, lukai, kenai, serupai, dustai, ketuai, tawai, biayai
Dïucapkan terpisah: kaidah (ka-i-dah), syair (sya-ir), sais (sa-is), yaitu (ya-i-tu)
Supaya tidaq rancu, tërhadap kataδ yaŋ bukan divtoŋ dan kataδ yaŋ bërahiran -i pada huruv i-ña diberi tanda trεma sementara tërhadap kataδ yaŋ dïucapkan terpisah pada huruv a-ña diberi tanda trεma sehiŋga menjadi:
Bukan divtoŋ: aïr, baï, baïk, caïr, gaïb, haïd, ajaïb, kaïn, kaït, laïn, laïk, maïn, naïk, raïh, saïŋ
Kata bërahiran -i: nodaï, tandaï, curigaï, mulaï, gulaï, lukaï, meŋenaï, meñerupaï, dustaï, meŋetuaï, menertawaï, biayaï
Dïucapkan terpisah: käidah (ka-i-dah), syäir (sya-ir), säis (sa-is), yäitu (ya-i-tu)

Kombinasi ε-i contohña:
Divtoŋ: hεi, Mεi
Dïucapkan terpisah: kavε"in (ka-vε-in)

Kombinasi o-i contohña:
Divtoŋ: amboi, Hanoi, sepoi, asoi, lεtoi, (dari bahasa asiŋ: tomboi, koboi, boikot, amoi)
Bukan divtoŋ: koin, hεroin
Kata bërahiran -i: jagoi
Dïucapkan terpisah: koit (ko-it)
Supaya tidaq rancu, tërhadap kataδ yaŋ bukan divtoŋ dan kataδ yaŋ bërahiran -i pada huruv i-ña diberi tanda trεma sementara tërhadap kataδ yaŋ dïucapkan terpisah pada huruv o-ña diberi tanda trεma sehiŋga menjadi:
Bukan divtoŋ: koïn, hεroïn
Kata bërahiran -i: jagoï
Dïucapkan terpisah: köit (ko-it)

Kombinasi u-i contohña:
Divtoŋ: bubui, cihui
Bukan divtoŋ: bui, buih, cuil, badui, duit, kuil, peluit, puiŋ, suir, suit
Kata bërahiran -i: baüi, bumbui, tuŋgui, bajui, akui, bului, dahului, melalui, ketahui, barui, gurui, susui
Supaya tidaq rancu, tërhadap kataδ yaŋ bukan divtoŋ dan kataδ yaŋ bërahiran -i pada huruv i-ña diberi tanda trεma sehiŋga menjadi:
Bukan divtoŋ: buï, buïh, cuïl, baduï, duït, kuïl, peluït, puïŋ, suïr, suït
Kata bërahiran -i: baüï, bumbuï, tuŋguï, bajuï, akuï, buluï, dahuluï, melaluï, ketahuï, baruï, guruï, susuï

Kombinasi a-o contohña:
Divtoŋ: Lao (nama negara, bukan Laos), aŋpao, baqpao, taogε
Bukan divtoŋ: Maos (nama kota), laos (nama tanaman untuk bumbu masakan), kaos (jenis bahan kaïn)
Supaya tidaq rancu, tërhadap kataδ yaŋ bukan divtoŋ pada huruv o-ña diberi tanda trεma sehiŋga menjadi:
Bukan divtoŋ: Maös, laös, kaös

Kombinasi a-u contohña:
Divtoŋ: Auloh (Allah/Alloh), aula, imbau, kerbau, kacau, mandau, tinjau, eŋkau, kalau, harimau, limau, ennau (enau), pulau, lampau, saudara, rantau, payau
Bukan divtoŋ: aum, aus, bau, baut, daun, haus, jauh, kaum, kaus, mau, Mauk, maut, lauk, laut, pauk, paus, sauh, saus, tau, taut
Supaya tidaq rancu, tërhadap kataδ yaŋ bukan divtoŋ pada huruv u-ña diberi tanda trεma sehiŋga menjadi:
Bukan divtoŋ: aüm, aüs, baü, baüt, daün, haüs, jaüh, kaüm, kaüs, maü, Maük, maüt, laük, laüt, paük, paüs, saüh, saüs, taü, taüt

Kombinasi o-u contohña:
Divtoŋ: Ou, koŋkou, halou (halo)

Tambahan

  1. Ada divtoŋ laïn yäitu aε tetapi sampai kini haña digunakan pada satu kata asiŋ: taεkwondo (taε-kwo-ndo) sehiŋga tidaq dicantumkan dalam divtoŋ Indonεsia. Sedaŋkan kata "daεrah" karena dïucapkan sebagai da-ε-rah maka dituliskanña "däεrah".
  2. Semua ahiran -i pada kata yaŋ huruv tërahirña vokal selalu dituliskan deŋan tanda trεma. Contoh:
    a. mula + i → mulaï
    b. jago + i → jagoï
    c. dahulu + i → dahuluï
    d. ketua + i → ketuaï
    e. baü + i → baüï
  3. f. lampau + i → lampauï
  4. Apabila kata yaŋ huruv tërahirña vokal dijadikan katäulaŋ dan dituliskan deŋan tanda "δ" maka ahiran -i-ña tetap perlu diberi tanda trεma. Contoh: memata-mataï → me-mataδï.
  5. Peŋgunaan tanda trεma lebih lanjut akan dibahas di waktu yaŋ akan dataŋ.

Ke Gunuŋ Halimun






















Petualaŋanku

Bulan Agustus tahun lalu kami pergi ke Gunuŋ Halimun.










Petualaŋanku




Selamatpagi kah?

Sëoraŋ pembawa acara televisi meŋucapkan salam ‘selamatpagi’ kepada pemirsa ketika waktu menunjukkan pukul 24.00. Saya ter-hεranδ mendeŋarña. Sudah pagi kah pukul 24.00 atau 24.00 lεwat 1 detik? Suŋguh saŋat anεh jika dikatakan sudah pagi ketika sebagian besar oraŋ masih terlelap dan laŋit masih gelap-gulita. Bukan kah kita tidur pada malämhari bukanña pada pagihari? Kecuali oraŋ sakit atau oraŋ malas tentuña. Atau segelintir oraŋ yaŋ bekerja pada malämhari. Kita semua taü bahwa pagihari adalah waktu dimulaïña kegiatan se-hariδ kita. Di pagihari oraŋ mulaï baŋun dari tidurña dan mempersiapkan segalasesuatuña. Akantetapi, pukul 24.00 adalah waktu yaŋ cukup jaüh dari saat itu. Pukul 24.00 adalah teŋahmalam. Makadariitu, suŋguh tidaq tepat jikalau kita meŋucapkan ‘selamatpagi’ karena hari belum pagi! Pukul 24.00 ada di malämhari bukan pagihari. Jadi salam yaŋ tepat adalah ‘selamatmalam’.

Suatu kali saya pergi ke Kelurahan untuk meŋurus KTP. Waktu itu sekitar pukul 10.30. Ketika berjumpa deŋan Paq Lurah, saya meŋucapkan salam: Selamatsiaŋ, Paq! Tetapi Paq Lurah menjawab: Selamatpagi! Saya agaq terkejut dan berpikir: Saat ini pagihari atau siaŋ-hari? Saya juga agaq cemas kalauδ dikira meñindir Paq Lurah yaŋ baru dataŋ ke kantor jam segitu. Lama setelah kejadian itu saya baru paham, zaman sekaraŋ di Indonεsia bañak oraŋ berpendapat bahwa pagihari itu dimulaï dari pukul 24.00 hiŋga pukul 12.00! Lalu kapan siaŋ-hariña? Dari pukul 12.00 hiŋga pukul 15.00. Sorεhari dari pukul 15.00 hiŋga pukul 18.00 dan malämhari dari pukul 18.00 hiŋga pukul 24.00. Gila! Suŋguh suatu pembagian waktu yaŋ kacau-balau dan taqsetara. Pagihari 12 jam, siaŋ-hari 3 jam, sorεhari 3 jam dan malämhari 6 jam. Akibatña bisa gawat. Jika sesëoraŋ tiba di tempat kerja pukul 11.55, secara umum ia masih dïaŋgap tidaq kesiaŋan walau jam kerjaña dimulaï pukul 08.30. Ia bekerja di “siaŋ-hari” haña sebentar yäitu 3 jam. Selanjutña, ia ber-siapδ pulaŋ karena hari sudah sorε. Di rumahña ia mëŋhabiskan sebagian besar waktu malam deŋan urusan keluarga. Lalu sebagaimana oraŋ kota yaŋ biasa tidur larut malam, ia mulaï tidur menjelaŋ “pagihari” yäitu sekitar pukul 24.00. Maka, tidaq seperti oraŋ dulu yaŋ baŋun tidur dan memulaï kegiatan di pagihari, ia justru memulaï “pagihari” deŋan tidur. Betapa anεhña! Kekacauan waktu macam ini muŋkin turut berperan atas tidaq majuδña negeri ini.

Saya meŋusulkan suatu pembagian waktu yaŋ setara, berdasarkan pandaŋan umum dan kebiasaan masyarakat kita dulu tentaŋ waktu. Pada dasarña satu hari dibagi menjadi dua bagian yaqni siaŋ-hari dan malämhari. Siaŋ-hari –saat laŋit teraŋ, matahari bersinar– adalah waktu oraŋ bergiat, bekerja, mencari navkah dsb. Malämhari –saat laŋit gelap, bulan berbinar dan bintaŋ berkelap-kelip– adalah waktu oraŋ bëristirahat dan tidur. Pada keñataanña, perubahan kegiatan bekerja-bëristirahat dan bëristirahat-bekerja tidaq lah terjadi mendadak. Ada kegiatan yaŋ meŋantaraï perubahan itu seperti juga perubahan siaŋ-hari ke malämhari dan malämhari ke siaŋ-hari tidaq terjadi mendadak. Teraŋ tidaq mendadak jadi gelap, gelap tidaq mendadak jadi teraŋ. Teraŋña siaŋ-hari ber-aŋsurδ meredup menjadi gelap; itu lah sorεhari. Gelapña malämhari ber-aŋsurδ memudar menjadi teraŋ; itu lah pagihari. Jadi, satu hari terñata terbagi menjadi empat masa yäitu: pagihari, siaŋ-hari, sorεhari dan malämhari.
Kapan kah dimulaïña pagihari? Kalau berdasarkan pada mulaï teraŋña laŋit hiŋga terbitña matahari, maka pagihari berlaŋsuŋ haña sebentar yäitu dari sekitar pukul 05.00 hiŋga pukul 06.30. Akantetapi, ‘bila kita meŋacu pada kegiatan yaŋ meŋantaraï perubahan malam menuju siaŋ yäitu ketika oraŋ mulaï baŋun dari tidur, mempersiapkan segalasesuatuña dan ber-siapδ pergikerja maka pagihari berlaŋsuŋ cukup lama. Umumña oraŋ baŋuntidur di pagihari antara pukul 5 hiŋga pukul 8. Tetapi ada juga yaŋ karena tuntutan pekerjaanña harus baŋun pukul 4 atau bahkan sebelum itu. Kapan kah bërahirña pagihari? Ketika matahari telah terbit tetapi sinarña belum terasa panas meñeŋat masih bolεh lah disebut pagi yäitu sekitar pukul 9.

Begitu pula deŋan sorεhari. Kalau berpatokan pada terbenamña matahari hiŋga gelapña laŋit maka sorεhari pun berlaŋsuŋ sebentar yäitu dari sekitar pukul 17.00 hiŋga pukul 18.30. Akantetapi, ‘bila kita meŋacu pada kegiatan yaŋ meŋantaraï perubahan siaŋ menuju malam yäitu ketika umumña oraŋ mulaï mëŋhentikan kerjaña, membεrεskan segala sesuatuña, ber-siapδ pulaŋ dan berceŋkrama bersama keluarga maka sorεhari berlaŋsuŋ cukup lama. Umumña kegiatan menuju istirahat malam ini dimulaï dari pukul 15 hiŋga pukul 21. Waktu antara pukul 18 hiŋga pukul 21 masih termasuk sorεhari kendati laŋit sudah gelap. Meŋapa? Iŋat, biasaña oraŋ suka berseloroh: “Wah, hari masih sorε gini manabisa tidur. Lebih baïk kita meŋobrol.” Kapan waktuña tidur? Umumña pukul 21 selεwatña. Nah, itu lah saat dimulaïña malämhari.

Maka, mari lah kita sepakati bahwa satu hari dibagi menjadi empat bagian waktu yaŋ sama yäitu: pagihari, siaŋ-hari, sorεhari dan malämhari, masiŋδ 6 jam lamaña. Pada malämhari, waktu antara pukul 24 hiŋga pukul 3 disebut juga dinihari. Pada sorεhari, waktu antara pukul 15 hiŋga pukul 18 disebut juga petäŋhari. Vajar adalah saat laŋit bërubah dari gelap menjadi teraŋ tetapi matahari belum terbit. Sedaŋkan, senja adalah saat laŋit bërubah dari teraŋ -setelah matahari terbenam- menjadi gelap. Kata pagi, siaŋ, sorε, petaŋ dan malam tanpa disertaï kata hari adalah katasivat tentaŋ këadaan waktu dalam sehari. Berikut ini adalah larikan tentaŋ pembagian waktu dalam sehari beserta salamña.
Pagihari : 03.00 – 08.59, salamña → Selamatpagi
Siaŋ-hari: 09.00 – 14.59, salamña → Selamatsiaŋ
Sorεhari : 15.00 – 20.59, salamña → Selamatsorε
Malämhari: 21.00 – 02.59, salamña → Selamatmalam

Biasakan lah meŋucapkan salam yaŋ sesuai waktu dan masükakal.

Єjaan Bahasa Indonεsia Mutahir (1)

Bahasaku

Dituliskan sebagaimana dïucapkan, dïucapkan sebagaimana dituliskan.

Bahasa Indonesia Mutakhir – disebut juga bahasa Indonesia modern – adalah bahasa Indonesia yang diperbaiki ejaannya. Sebagaimana kita ketahui, ejaan bahasa Indonesia sesungguhnya mengikuti asas “dituliskan sebagaimana diucapkan, diucapkan sebagaimana dituliskan”. Asas ini pertama kali saya dengar dari guru bahasa Indonesia saya waktu di SMA yaitu Bapak Drs. Daniel Tulalesy. Saya sependapat dengan beliau. Asas ini menjadikan bahasa Indonesia bahasa yang sederhana, khas namun andal, berhasil guna dan berdaya guna. Sayangnya, pemakaian bahasa Indonesia saat ini tidaklah taat mengikuti asas ini bahkan cenderung keinggris-inggrisan. Untuk mewujudkan bahasa Indonesia yang sesuai asas itu, bertahun-tahun kemudian saya menyusun suatu sistem ejaan yang saya namai Ejaan Bahasa Indonesia Mutakhir.

Ketidaktaat-asasan (inkonsistensi) ejaan Bahasa Indonesia
Pemakaian bahasa Indonesia saat ini tidak sepenuhnya mengikuti asas tersebut. Berikut ini akan saya uraikan masalah ketidaktaat-asasannya.
  1. Masalah pertama adalah penggunaan satu huruf untuk dua bunyi dan dua huruf untuk satu bunyi. Berdasarkan asas “dituliskan sebagaimana diucapkan, diucapkan sebagaimana dituliskan” satu huruf hanya boleh menyatakan satu bunyi, sebaliknya satu bunyi hanya boleh dilambangkan dengan satu huruf. Huruf-huruf yang dimaksud adalah huruf e dan k serta f dan v.
    a. Huruf e mempunyai dua bunyi yaitu e dan é seperti pada kata ‘beras’ dan ‘ekor’. Ini bisa menimbulkan kerancuan seperti pada kata ‘serang’, ‘mental’, ‘belok’ karena jika huruf ‘e’-nya diucapkan sebagai bunyi e arti kata-kata tsb. berbeda daripada jika diucapkan sebagai bunyi é . Bagaimana pula mengucapkan kata-kata: elang (elang atau élang), kemah (kemah atau kémah), denah, peta?
    b. Huruf k mempunyai dua bunyi (k) dan (‘) seperti pada kata ‘tindak’ dan ‘tidak’, ‘kapak’ dan ‘bapak’.
    c. Huruf f dan v dalam Bahasa Indonesia bunyinya sama (contoh: ‘aktif’ dan ‘aktiv’, ‘negatif’ dan ‘negativ’). Ini adalah keborosan dan kesia-siaan.
  2. Adanya huruf-huruf ganda yaitu kh, ng, ny. Bunyi kh adalah bunyi arabiah. Bunyi ini tidak selaras dengan bunyi melayuwi yang sederhana, terbuka dan renyah. Sedangkan penggunaan ng dan ny adalah keborosan dan juga tidak taat asas. Kalau taat asas, b a n g a u mestinya diucapkan ban-gau, t e n g a h dibaca ten-gah, s e n y a p dibaca se-niap, h a n y u t dibaca ha-niut.
  3. Adanya huruf-huruf yang mubazir karena tidak digunakan yaitu: q, x.
  4. Belum adanya huruf-huruf untuk bunyi-bunyi sengau seperti seruan ‘ha?’, ‘he-eh’dan kata ’hio’, ‘lumpia’.
  5. Penulisan yang tidak sesuai dengan pengucapan. Perhatikanlah ‘b a u’ pada kata ‘kerbau’ diucapkan berbeda daripada ‘b a u’ pada kata ‘bau’. Demikian ‘m a u’ pada kata ‘mau’ diucapkan berbeda daripada ‘harimau’. Juga ‘l a i’ pada kata ‘lalai’ dan ‘lain; ‘d i a’ pada ‘dian’ dan ‘diantar’. Penulisan yang tidak sesuai pengucapan juga terdapat pada kata ‘modern’, ‘film’, ‘intern’, ‘daerah’, ‘terangkat’, ‘berayun’ dsb.
  6. Penulisan kata ulang secara lengkap, meskipun sesuai dengan asas di atas tetapi dianggap boros (boros halaman dan tinta, mungkin juga boros byte). Perlu ada terobosan.

Ejaan Bahasa Indonesia Mutakhir
Bertolak dari masalah tsb. di atas saya menyusun suatu sistem ejaan untuk mengatasinya. Pertama-tama adalah penggunaan huruf-huruf yang memenuhi asas “dituliskan sebagaimana diucapkan, diucapkan sebagaimana dituliskan”. Berikutnya adalah cara-cara penulisannya. Perbaikan-perbaikan yang saya usulkan untuk digunakan diuraikan di bawah ini.

  1. Huruf e hanya digunakan untuk bunyi e seperti pada kata: beras, tendang, lepas. Namanya ‘e’ bukan ‘é’.
  2. Untuk bunyi é digunakan huruf baru yaitu Є (huruf besar) atau ε (huruf kecil), contoh: bεbas, εmbεr.
  3. Huruf k hanya digunakan untuk bunyi k seperti pada kata: tindak, kepak, ombak.
  4. Untuk bunyi (‘) digunakan huruf yang sebelumnya tidak digunakan yaitu q, contoh: tidaq, bapaq, raqyat. Huruf ini tidaq boleh diletakkan di awal kata karena tidaq bisa diucapkan.
  5. Huruf v digunakan untuk semua kata yang menggunakan huruf f dan v, contoh: Avrika, vana, vajar.
  6. Huruv f (baca: εpsi) digunakan untuk menggantikan huruv ps seperti pada kata: kaful (kapsul), nafu (napsu). Huruv f tidaq bolεh ditempatkan di akhir kata.
  7. Huruv ganda kh diubah menjadi h atau g disesuaikan dengan pengucapan yang melayuwi, contoh: has (khas), husus (khusus), hidmat (khidmat), ahir (akhir), hazanah (khazanah), tarig (tarikh).
  8. Huruv ganda ng diganti dengan huruv baru Ŋ (huruv besar) atau ŋ (huruv kecil), contoh: ŋaŋa (nganga), yaŋ (yang), uŋu (ungu). Nama huruv ini ŋa.
  9. Huruv ganda ny diganti dengan huruv baru Ñ (huruv besar) atau ñ (huruv kecil), contoh: ñamuk (nyamuk), haña (hanya), añam (anyam). Nama huruv ini ña.
  10. Huruv ganda sy tetap digunakan. Peŋucapanña tidaq arabiah tetapi biasa saja. Contoh: sya pada syarat diucapkan seperti sia tetapi deŋan buñi i yaŋ siŋkat sekali. Huruv ganda sy tidaq bolεh diletakkan di ahir kata karena buñiña arabiah.
  11. Huruv x (baca: εksa) digunakan untuk meŋgantikan huruv ks seperti pada kata: laxa (laksa), paxa (paksa), saxi (saksi), sixa (siksa). Huruv x tidaq bolεh ditempatkan diahir kata.
  12. Untuk buñi seŋau digunakan tanda topi pada huruv hidupña, contoh: hâ, lumpyâ (lumpia), hîô (hio), shyô (shio).
  13. Untuk membεdakan peŋucapan sukukata yaŋ huruvña sama digunakan tanda trεma yaŋ dipasaŋ pada huruv yaŋ sesuai. Contoh: baü, kerbau, maü, harimau, permai, maïn, laïn, laïk, käidah (diucapkan: ka-i-dah), däεrah (diucapkan: da-ε-rah), tækwondo (tae-kwon-do).
  14. Kata ulaŋ hendakña ditulis secara siŋkat deŋan menulis tanda δ di belakaŋ kata atau unsur kata yaŋ dïulaŋ. δ adalah huruv d Yunani atau dεlta. Tanda δ di sini maksudña ‘dua’ yaqni dibaca dua kali atau dïulaŋ. Contoh: hatiδ (hati-hati), ber-jalanδ (berjalan-jalan), me-ŋipasδ (mengipas-ngipas). Penulisan kata ulaŋ secara leŋkap bolεh dilakukan untuk syäir lagu.
  15. Partikel lah, kah, tah, pun ditulis terpisah dari kata dasarña, contoh: hendak lah, sudah kah, apa tah, saya pun.
  16. Untuk masalah lainña akan dibahas laïnkali.

Berikut ini adalah abjad bahasa Indonεsia Mutahir.

Aa│Bb│Cc│Dd│
Єε│Ff│Gg│Hh│
Ii│Jj│Kk│Ll│
Ee│Mm│Nn│Ŋŋ│Ññ│
Oo│Pp│Qq│Rr│Ss│Tt│
Uu│Vv│Ww│Xx│Yy│Zz│

Sekaraŋ saya tulis kembali wacana di atas deŋan meŋgunakan ЄBIM.

Bahasa Indonεsia Mutahir –disebut juga bahasa Indonεsia modεren– adalah bahasa Indonεsia yaŋ diperbaïki εjaanña. Sebagaimana kita ketahuï, εjaan bahasa Indonεsia sesuŋguhña meŋikuti asas “dituliskan sebagaimana dïucapkan, dïucapkan sebagaimana dituliskan”. Asas ini pertama kali saya deŋar dari guru bahasa Indonεsia saya waktu di SMA yäitu Tuan Drs. Daniel Tulalesy. Saya sependapat deŋan beliau. Asas ini menjadikan bahasa Indonesia bahasa yaŋ sedërhana, has namun andal, bërhasilguna dan berdayaguna. Sayaŋña, pemakaian bahasa Indonεsia saat ini tidaq lah taat meŋikuti asas ini, bahkan cenderuŋ këiŋgris-iŋgrisan. Untuk mewujudkan bahasa Indonεsia yaŋ sesuai asas itu, ber-tahunδ kemudian saya meñusun suatu sistim εjaan yaŋ saya namaï Єjaan Bahasa Indonεsia Mutahir (ЄBIM).

Nah, anda telah melihat perbεdaanña bukan? Kalau begitu anda sudah paham tentaŋ Єjaan Bahasa Indonεsia Mutahir (ЄBIM) sekaraŋ. Selanjutña saya akan menulis meŋgunakan ЄBIM deŋan taat-asas. Untuk lebih mendalami bahasa Indonεsia mutahir, anda dapat meŋgunakan rujukan Kamusku yaŋ saya susun. Silakan membaca tulisanδ saya.

Kebaŋgaan berbahasa Indonεsia
Sejak kecil saya telah memiliki perasaan baŋga tërhadap bahasa Indonεsia. Apalagi bilamana melihat wacana dalam bahasa Indonεsia disandiŋkan deŋan wacana terjemahanña dalam bahasa laïn seperti pada buku petunjuk peŋgunaan alat yaŋ ditulis dalam beberapa bahasa. Peŋgunaan huruv latin membuat bahasa Indonεsia tampak sejajar deŋan bahasaδ Єropa. Aduhai, betapa kerεnña!

Akantetapi, kebaŋgaan saya kini tërusik mendapati jaraŋña bahasa Indonεsia disandiŋkan deŋan bahasaδ laïn pada bukuδ petunjuk peŋgunaan alat (buku pedoman) dsb. Sebalikña bahasa negara tetaŋga seperti Korεa, Mwaŋthai dan Vyεtnam makin seriŋ terlihat. Sebabña, raqyat Indonεsia kuraŋ mëŋhargaï bahasaña sendiri – kuraŋ mëŋhargaï budayaña sendiri. Oraŋ Indonεsia lebih suka meŋgunakan bahasa Iŋgris. Oraŋ Indonεsia makin tidaq baŋga deŋan bahasaña sendiri. Hal ini terlihat dari makin bañakña kataδ asiŋ yaŋ digunakan meskipun ada kata Indonεsiaña. Makin lama makin sedikit peŋetahuan oraŋ Indonεsia akan bahasaña sampai ahirña tidaq lagi dapat meŋgunakan bahasa Indonεsia yaŋ baïk dan benar. Akibatña, makin lama bahasa Indonεsia maüpun budaya Indonεsia makin tidaq dipërhatikan dan makin dirεmεhkan olεh baŋsaδ laïn.

Meŋapa oraŋ Indonεsia makin tidaq baŋga deŋan bahasaña sendiri? Apakah meŋgunakan bahasa atau kataδ Indonεsia itu memalukan? Apakah bahasa Indonεsia itu jelεk? Apakah meŋgunakan bahasa atau kataδ asiŋ –hususña Iŋgris– itu tampak lebih kerεn atau lebih cerdas? Saya tidaq setuju. Saya pikir oraŋ yaŋ tidaq baŋga berbahasa Indonεsia justru adalah oraŋ yaŋ memalukan!

Bahasa menunjukkan baŋsa. Dan semua baŋsa yaŋ maju adalah baŋsa yaŋ puña bahasa kebaŋsaan yaŋ bagus. Ada dua cara memiliki bahasa yaŋ bagus yäitu: 1) meŋembaŋkan bahasa sendiri atau 2) laŋsuŋ memuŋut bahasa asiŋ yaŋ sudah maju dan bagus. Cara pertama dilakukan olεh hampir semua baŋsa yaŋ maju. Cara kedua dilakukan antara laïn olεh India dan Siŋapura. Kedua negara ini memuŋut bahasa Iŋgris. Cara yaŋ manakah yaŋ akan kita gunakan? Untuk membantu meŋembaŋkan bahasa Indonεsia, kita harus turut bertaŋguŋjawab memberikan sumbaŋsih.

Bahasai Indonεsia mutahir disebut juga bahasa Ina. Meŋapa disebut bahasa Ina? Pertama, dalam dunia olähraga antarbaŋsa nama Indonεsia seriŋ disiŋkat menjadi Ina. Ina itu Indonεsia. Kedua, menurut kamus bahasa Indonεsia, ina juga bërarti ibu. Jadi, bahasa Ina juga bërarti bahasa Ibu. Jikalau anda tidaq setuju deŋan gagasan saya tentaŋ sistim εjaan ini, atau anda tidaq rεla sistim εjaan ini diterapkan pada bahasa Indonεsia, maka biar lah saya tetap meŋgunakanña dalam bahasa yaŋ saya baŋgakan yaŋ saya sebut sendiri sebagai bahasa Ina atau bahasa Indonεsia mutahir.