Anton Moeliono telah Berpulaŋ

Olεh Robert Adhi Kusumaputra

Ahli bahasa Indonεsia, Prov. Dr. Anton Moeliono, meniŋgal pada hari Senεn (25/7/2011) pukul 23.27 di rumahña di Jl. Kartanegara no. 51, Jakarta, pada usia 82 tahun.

Anton Moerdado Moeliono, lahir di Banduŋ, Jawa Barat pada taŋggal 21 Pεbruari 1929, adalah ahli bahasa Indonεsia dan pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Bahasa Indonεsia tahun 1984 – 1989. Pada masa kepemimpinanña di Pusat Bahasa lah, pada tahun 1988 Kamus Besar Bahasa Indonεsia pertama kali diterbitkan.

Anton Moeliono adalah gurubesar Vakultas Sastra (sekaraŋ Vakultas Ilmu Peŋetahuan Budaya) Universitas Indonεsia dan juga terlibat dalam pendirian Universitas Atma Jaya.

Jenazah Anton Moeliono saat ini disemayamkan di rumah mendiaŋ di Jl. Kartanegara no. 51, Jakarta. Pada hari Rabu bεsok (27/7/2011) dïadakan misa requiem di Gerεja Santa, siaŋ-hariña jenazahña dipërabukan.

Sebelumña, Anton Moeliono sempat dirawat di RS Mεdistra, Jakarta karena meŋalami komplikasi peñakit pada organδ tubuh terpentiŋ.

Wajah Anton Moeliono seriŋ muncul dalam acara [] Pembinaan Bahasa Indonεsia di TVRI pada tahun 1973 – 1977.

Anton Moeliono merupakan tokoh pentiŋ dan berjasa dalam kelahiran Єjaan Yaŋ Disempurnakan (ЄYD) pada tahun 1972 dan diresmikan olεh Prεsiden Soeharto pada hari Periŋatan Kemerdεkaan RI.

“Saya iŋin baŋsa Indonεsia baŋga pada bahasa kebaŋsaan,” kata Anton Moeliono bër-ulaŋδ. Selamatjalan Paq Anton ... (IJ/KSP)

(Sumber: KOMPAS.com, Selasa, 26 Juli 2011)

Pondok Mencintaï

Pada hari Sabtu taŋgal 23 Juli 2011 lalu kami sekeluarga pergi ke Plaza Semaŋgi untuk mencoba masakan vεgan di rumahmakan Loving Hut. Acara ini juga dalam raŋka merayakan ulaŋtahun Mama yaŋ ke-81. Setelah berjuaŋ melawan kemacεtan lalulintas selama satu jam lebih, ahirña pada pukul 12.48 tiba lah kami di sana. Taqsulit mencari rumahmakan itu yaŋ terletak di lantai 3A yaŋ berupa foodcourt. Rumahmakanña sendiri dibatasi deŋan dindiŋ kaca.

Kami segera memesan makanan yäitu: fried enoki, fried misoa, king’s delight, luscious lemongrass dan rainbow roll. Pramusaji sempat memeriŋatkan kami bahwa ada beberapa masakan pesanan kami yaŋ bahan bakuña meŋanduŋ bawaŋ. Bagi kami yaŋ bukan pelaku vεgetarian atau vεgan murni, hal itu tidaq lah menjadi masalah.

Sambil menuŋgu kami me-lihatδ suasana di sekeliliŋ. Ada 2 buah pesawat TV layar lεbar yaŋ meñiarkan acara dari saluran parabola SupremeMaster Ching Hai. Makanan dihidaŋkan deŋan cepat, kuraŋ dari 15 menit! Suŋguh, pelayanan yaŋ bagus.

Fried enoki berupa jamur gorεŋ tepuŋ yaŋ diikat deŋan pita rumput laüt. Fried misoa sudah jelas maxudña adalah miswâ gorεŋ; aromaña sedap sekali. King’s delight terñata adalah tahu yaŋ dimasak deŋan kuah kεcap asin, rasaña lembut seperti ikan tim. Kami sempat terkεcoh deŋan masakan yaŋ tampakña, dan bahkan rasaña, mirip dagiŋ babi gorεŋ kεcap deŋan sedikit rasa asam. Terñata itu adalah luscious lemongrass. Dan yaŋ tërahir adalah masakan yaŋ mirip ŋohyoŋ deŋan 3 macam rasa: rainbow roll.

Keseluruhan masakanña lezat dan memuaskan. Berikut ini beberapa voto acara tsb.

Perahu Retak

Perahu negeriku, perahu baŋsaku
semaŋat raqyatku, kibar bendεraku
meñeruak laütan

laŋit membentaŋ cakrawala di depan
melambaikan tantaŋan

di atas tanahku, dari dalam aïrku
tumbuh kebahagiaan
di sawah kampuŋku, di jalan kotaku
terbit kesejahteraan

tapi ‘ku hεran di teŋah perjalanan
muncul lah ketimpaŋan

aku hεran, aku hεran
yaŋ salah dipertahankan
aku hεran, aku hεran
yaŋ benar disiŋkirkan

Perahu negeriku, perahu baŋsaku
jaŋan retak dindiŋmu
semaŋat raqyatku, derap kaki tεkadmu
jaŋan tërantuk batu

tanah pertiwi anugrah ilahi
jaŋan ambil sendiri
tanah pertiwi anugrah ilahi
jaŋan makan sendiri

aku hεran, aku hεran
satu keñaŋ, seribu kelaparan
aku hεran, aku hεran
keserakahan dïaguŋkan


Tibaδ saya tëriŋat lagu Franky Sahilatua yaŋ syäirña dibuat bersama olεh Franky Sahilatua dan Emha Ainun Nadjib. Lagu yaŋ berjudul “Perahu Retak” ini muncul dan populεr pada tahun 1996 sehubuŋan deŋan dicopotña hakim aguŋ Andi Andojo pada ahir zaman Orba. Kataδ pada lagu ini: aku hεran, aku hεran / yaŋ salah dipertahankan / aku hεran, aku hεran / yaŋ benar disiŋkirkan jelas ditujukan kepada hal tsb.

Pada waktu itu, hakim aguŋ Andi Andojo berani meñatakan bahwa telah terjadi kolusi dan korufi di tubuh MA yaŋ dipimpin oleh Soerjono. Para hakim aguŋ rekan Andi Andojo di MA marah kepadaña karena bersikap tidaq setiakawan deŋan memboŋkar aïb organisasi. Sebenarña ini bukan keseŋajaan Andi Andojo. Ini terjadi karena ada yaŋ membocorkan kepada umum surat rahasia Andi Andojo kepada ketua MA. Merεka lalu meŋeroyok Andi Andojo deŋan ber-samaδ menandataŋani surat permintaan pemecatan Andi Andojo. Pemerintah lalu turuntaŋan. Akantetapi, yaŋ terjadi adalah rεzim Soeharto mencopot Andi Andojo sedaŋkan pejabat yaŋ bersalah malah dipertahankan deŋan alasan tidaq ada korufi, yaŋ ada haña lah kesalahan prosedur! Raqyat saŋat kesal dan muak kepada rεzim Soeharto karena pelaku kolusi dan korufi dilinduŋi sebalikña pejabat yaŋ meŋuŋkapña malah disiŋkirkan. Seniman Emha Ainum Nadjib dan mendiaŋ Franky Sahilatua bërhasil deŋan baïk sekali menuaŋkan peristiwa ini dalam syäir tsb.

Ahirña, rεzim Soeharto yaŋ memuakkan itu tumbaŋ juga pada tahun 1998. Namun, Soeharto yaŋ terlibat korufi luarbiasa besar dan melakukan pelaŋgaran HAM berat itu tidaq tersentuh hukum hiŋga ahir hayatña di negeri ini. Ia benarδ tokoh yaŋ luarbiasa. Hasil käryaña masih terasa hiŋga hari ini. Bukan cuma masih terasa tetapi käryaña itu telah tumbuh dan berkembaŋ luas pada baŋsa ini. Apa kah kärya luarbiasa itu? Tidaq laïn tidaq bukan adalah KERUSAKAN AHLAK BAŊSA.

Hiŋga tahun ini 15 tahun telah lampau sejak munculña lagu “Perahu Retak”. Kesalahan dan ketidaqadilan sebagaimana terlukis dalam syäir lagu tersebut terñata bukan saja masih ada tetapi telah berkembaŋ hiŋga ke pelbagai lapisan masyarakat. Aku hεran, aku hεran / yaŋ salah dipertahankan / aku hεran, aku hεran / yaŋ benar disiŋkirkan. Ya, itu lah yaŋ terjadi pada hariδ ini. Kalau pada zaman Orba kejadianña pada tiŋkat pejabat tiŋgi maka pada zaman sekaraŋ kejadianña telah meluas dan menurun pada tiŋkat yaŋ lebih rendah. Ini saŋat memrihatinkan. Bërarti kerusakan ahlak telah meluas saŋat hεbat pada baŋsa ini.

Pada tarav yaŋ lebih rendah dari hakim aguŋ kita lihat bagaimana sëoraŋ Kabarεskrim bernama Susno Duadji disiŋkirkan karena memboŋkar kasus peŋgelapan olεh pegawai pajak bernama Gayus Halomoan Partahanan Tambunan dan adaña pentolan mavia hukum di Kepolisian (Sjahril Djohan). Ia sempat ditaŋkap ketika akan ke Siŋapura, lalu ditahan dan kini dihukum penjara.

Di DPR, Gayus Lumbun tersiŋkir sebagai ketua Badan Kehormatan DPR ketika bermaxud mempersöalkan kepergian aŋgota DPR untuk sètudi bandiŋ ke Yunani sekaligus melakukan kunjuŋan gelap ke Turki untuk menonton tari perut. Seluruh rekanδña di BK DPR termasuk dalam romboŋan itu sehiŋga ia sebagai satuδ yaŋ tidaq pergi harus bërhadapan deŋan merεka. BK DPR dibubarkan olεh para aŋgotaña dan dibentuk kembali tanpa Gayus Lumbun sedaŋkan Nudirman Munir (aŋgota BK yaŋ termasuk romboŋan sètudi bandiŋ) malah terpilih jadi wakil ketua.

Masih di DPR, aŋgota Badan Aŋgaran Wa Ode Nurhayati dihukum olεh BK DPR (yaŋ kini digerakkan olεh wakil ketuaña yäitu Nudirman Munir) setelah dilaporkan olεh Marzuki Alie garaδ meŋuŋkapkan adaña mavia aŋgaran yaŋ melibatkan ketua DPR tsb. dalam acara Mata Najwa di MetroTV.

Jaüh sebelum peristiwa di atas, Agus Condro, aŋgota DPR dari vraxi PDIP pεriode 1999-2004 dipecat olεh partaiña garaδ melaporkan adaña pemberian cεk pelawat kepada para aŋgota DPR (sebagaian besar dari partaiña sendiri) dalam pemilihan DGS BI. Saŋ calon yaŋ dituduh memberi cεk, Miranda Gultom, terpilih. Sementara perantara yaŋ meŋagih (distribusi) cεk, Nunun Nurbaeti, ketika perkara ini muncul ke halayak, segera pergi ke Siŋapura deŋan alasan meŋobati peñakit lupa berat yaŋ diidapña. Suami Nunun, Adang Daradjatun, mantan Wakapolri yaŋ kini menjadi aŋgota DPR dari PKS bertekad melinduŋi istriña dari pemerixaan KPK. Agus Condro divonis 1 tahun 3 bulan hukuman penjara.

Ketua umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, juga pernah memecat sëoraŋ tokoh PDIP di Jakara karena menolak mendukuŋ pencalonan Sutiyoso menjadi gubernur Jakarta untuk kedua kaliña. Padahal, apatah prεstasi Sutiyoso. Bahkan, ia juga terlibat kasus 27 Juli!

Di lapisan bawah, harian Kompas terbitan hari Rabu 15 Juni 2011 pada tulisan berjudul “Masyarakat Semakin Permisiv” memuat sejümlah laporan tentaŋ kelompokδ masyarakat yaŋ mendukuŋ kembaliña para pemimpin merεka yaŋ terlibat korufi bagaikan pahlawan yaŋ baru kembali dari mεdan peraŋ.

Sementara itu, ada peristiwa yaŋ mëŋhebohkan di Jawa Timur yäitu contεk masal pada UAN di SDN 2 Gadεl, Surabaya. Pasalña, contεk masal ini dïatur olεh guru atas persetujuan atau perintah kepala sekolahña. Sëoraŋ murid bernama Alifa Ahmad Maulana (Aam) diperintah olεh guruña untuk memberikan contεkan kepada temanδ waktu UAN di sekolah itu. Aam melaporkan hal ini kepada oraŋtuaña. Siami, ibunda Aam, melaporkan kecuraŋan ini kepada pihak yaŋ bërwajib dan Radio Suara Surabaya setelah tidaq mendapat jawaban yaŋ jelas dari pihak sekolah. Ahirña peristiwa ini meledak sampaiδ walikota turuntaŋan. Kepala sekolah dan 2 oraŋ guru SDN Gadεl dicopot dan dipindahtugaskan. Namun, apa yaŋ terjadi? Warga di liŋkuŋan rumah Bu Siami, tërutama ibuδ dari muridδ kelas IV SDN Gadel, justru marah kepada Bu Siami dan meŋusir keluargaña bahkan berniat membakar rumahña! Merεka berdalih bahwa contεk masal itu sudah biasa dilakukan di manaδ – jadi tidaq salah melakukanña! Astaga, kerusakan ahlak sudah sampai pada lapisan terbawah!

Contεk masal waktu UAN ini juga dilaporkan terjadi di SDN 6 Pesaŋgrahan, Jakarta. Muhammad Abrari Pulungan adalah murid yaŋ diperintah memberikan contεkan. Contεk masal diteŋaraï juga terjadi –tetapi bukan waktu UAN– di sekolah SP di Perumahan CI, Kalideres, tempat Maruko, keponakan saya, bersekolah.

Saya terkenaŋ lagu Franky. Saya membuka YouTube untuk mencari dan mendeŋarkanña mendεndaŋkan lagu ini. Vilemalitña (video clip-ña) asli yaŋ dulu. Saya meŋenaŋ kejadian 15 tahun lalu. Tahun ini masih sama seperti 15 tahun lalu: aku hεran, aku hεran / yaŋ salah dipertahankan / aku hεran, aku hεran / yaŋ benar disiŋkirkan.
http://musiklib.org/Franky_Sahilatua-Perahu_Retak-Lirik_Lagu.htm

Mohon Döa buat para Pendöa

Mohon döaña, Mas”, kata sëoraŋ artis yaŋ akan melaŋsuŋkan pernikahan kepada para wartawan invotainmen yaŋ meŋerubuŋiña.

Ya, pokoqña didöa-in aja. Kita ‘kan masih single. Kalau döaña baïk, insya Allah baïk,” kata Ibas, demikian Edhie (putra buŋsu Prεsidεn SBY) biasa disapa, kepada wartawan di selaδ acara “Jakarta International Defense Dialog” di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada hari Rabu (23/3/2011). – Kompas.com

Mohon Döa Restu”, begitu lah tulisan yaŋ biasa tercantum pada kartu undaŋan pernikahan.

Ya, mohon döa adalah suatu permohonan yaŋ amat seriŋ kita deŋar dalam kehidupan se-hariδ. Mulaï dari artis yaŋ sedaŋ menjalin cinta, oraŋ yaŋ akan menikah, akan bepergian, akan mëŋhadapi ujian di sekolah atau tεs lowoŋan kerja, atau akan menjalani pembedahan atawa peŋobatan di rumahsakit sampai yaŋ akan mëŋhadapi tuntutan hukum di peŋadilan karena perkara korufi maüpun perceraian atau apasaja.

Döa, menurut paham agama bukan Buddha, adalah sarana untuk bërhubuŋan deŋan suatu sosok yaŋ dïaŋgap mahakuasa yaŋ biasa disebut Tuhan. Melalui döa oraŋ berbicara, cürhat, meŋeluh, meminta dan bersyukur kepada sosok tsb. Nah, dari kelima maxud dalam berdöa, meminta adalah maxud yaŋ paliŋ menonjol. Saat berdöa, umumña oraŋ meminta ini dan itu: minta ampun atas kesalahanδña, minta rejeki dan makanan secukupña, minta keselamatan, minta kesembuhan, minta jodoh, minta suxεs bahkan minta agar ia menaŋ perkara di peŋadilan taqpeduli ia salah atau benar.

Berdöa bisa dilakukan sendiri olεh oraŋ ybs., bisa juga dilakukan oraŋ laïn untuk sesëoraŋ. Berdöa be-ramaiδ muŋkin dïaŋgap lebih ampuh untuk memaxa Tuhan menuruti këiŋinan manusia daripada kalau dilakukan sendirian. Karena itu, oraŋ seriŋ meŋadakan döa bersama yäitu berdöa ber-samaδ deŋan suatu maxud tertentu. Misalña: döa bersama untuk memohon kesembuhan sesëoraŋ, döa bersama agar bencana alam tidaq terjadi, döa bersama agar musibah cepat berlalu, döa bersama agar kesebelasan sεpakbola kesayaŋan menaŋ, döa bersama agar menaŋ pemilu dsb. Karena itu pula, oraŋ yaŋ puña niat tertentu seriŋ meminta oraŋδ laïn berdöa untukña (mendöaïña) agar niatña tercapai seperti contohδ di awal tulisan ini. Tetapi, tërhadap permintaan döa ini, sëoraŋ teman saya pernah bercelotεh agaq sinis: Єmaŋña gua gaq ada kerjaan ŋedöaïn döi!

Bilamana di satu pihak ada oraŋδ yaŋ selalu mohon döa atau minta didöaï, maka di laïn pihak ada oraŋδ yaŋ gemar mendöaï oraŋ laïn tërutama yaŋ sedaŋ meŋalami kesusahan. Oraŋδ ini biasaña bëraxi ketika meŋunjuŋi oraŋ sakit atau ketika menjumpaï oraŋ yaŋ sedaŋ tertimpa musibah. Ketika meŋunjuŋi oraŋ sakit, merεka selalu menawarkan jasa mendöaï pasiεn, tentu menurut agama oraŋ itu (para pendöa). Bahkan, meskipun merεka taü bahwa pasiεn tidaq sëiman deŋan merεka, merεka tetap saja menawarkan diri. Jika keluarga pasiεn meŋizinkan maka merεka laŋsuŋ berdöa deŋan penuh semaŋat. Döa merεka dipenuhi deŋan permintaan yaŋ së-olahδ merεka taü pasti akan dikabulkan. Kadaŋkala terdeŋar seperti dukun yaŋ merapal jampiδ. Anda tentu maqlum siapa tah merεka yaŋ saya maxud. Ya, merεka adalah oraŋδ Gerεja.

Sebenarña, kita bolεh berprasaŋka baïk tërhadap oraŋ yaŋ menawarkan diri mendöaï pasiεn. Apalagi merεka tidaq meminta bayaran. Sebagai umat Buddha, saya mëŋhargaï niat baïk merεka. Dataŋ meŋunjuŋi oraŋ sakit lalu berdöa mëŋharapkan kesembuhanña, bukan kah itu perbuatan baïk? Benar, daripada merεka berbuat sebalikña. Coba bayaŋkan sëandaiña ada oraŋ yaŋ meŋunjuŋi oraŋ sakit lalu meñumpahiña: Sukur, anda jatuh sakit! Nikmati sakitña! Semoga anda cepat mati! Bagaimana taŋgapan pasiεn atau keluargaña? Nah, sekali lagi, berdöa agar pasiεn sembuh adalah perbuatan baïk. Sayaŋña, meskipun merεka tidaq meminta bayaran, merεka puña pämrih! Setelah berdöa, merεka ber-cakapδ deŋan pasiεn tentaŋ agama merεka, lalu mencoba meŋajak pasiεn meŋenali sosok sembahan merεka, selanjutña merεka meŋundaŋ pasiεn –walaupun merεka taü pasiεn tidaq sëagama– untuk meŋunjuŋi tempat ibadat merεka! Muŋkin anda berkilah bahwa hal tërahir ini adalah juga baïk. Kalau oraŋ meŋundaŋ sesëoraŋ meŋunjuŋi rumahña maka tentu saja hal ini adalah baïk sebagai tanda keramah-tamahan sekalipun undaŋan itu cuma basa-basi. Akantetapi, meŋundaŋ oraŋ dataŋ ke tempat ibadat agama laïn dalam kaïtan di atas bukan lah suatu keramah-tamahan. Itu adalah perbuatan lancaŋ yaŋ tidaq mëŋhormati keyakinan pasiεn. Itu adalah suatu ajakan halus untuk pindah agama!

Saya sendiri tidaq percaya pada döa seperti ini karena tidaq konsistεn. Misalkan lah ada oraŋ yaŋ sakit. Ia bërobat dan berdöa. Kalau oraŋ itu kemudian sembuh, apa kah oraŋ itu sembuh karena obat atau karena döaña? Sebalikña, kalau sakitña bertambah parah bahkan kemudian meniŋgal, apa kah itu karena obatña tidaq manjur atau döaña tidaq terkabul? Kalau oraŋ menuntut (meŋ-klaim) bahwa Tuhan itu mahakuasa dan setiap döa pasti dikabulkan maka oraŋ yaŋ jatuhsakit tidaq perlu bërobat, tidaq perlu ke dokter apalagi sampai dirawat di rumahsakit; cukup berdöa saja, memohon kesembuhan, maka niscaya sembuh. Akantetapi, pada keñataanña, oraŋ sakit tetap saja bërobat, ke dokter, bahkan dirawat di rumahsakit. Tidaq terkecuali oraŋ Kristen. Saya kira tidaq ada oraŋ sakit yaŋ pikiranña cukup waras tidaq bërusaha bërobat tetapi se-mataδ haña berdöa. Kecuali, dokter sudah meñatakan peñakitña tidaq dapat disembuhkan atau ia terlalu miskin untuk membayar oŋkos peŋobatanña atau … ya, itu pikiranña tidaq cukup waras. Dalam hal demikian, berdöa adalah jalan tërahir yaŋ muŋkin dicoba oraŋ.

Deŋan berdöa, oraŋ sakit parah tetap saja mëŋhadapi 2 kemuŋkinan yäitu sembuh atau mati. Sëandaiña sembuh maka pendöa akan menuntut bahwa oraŋ itu sembuh berkat döaña. Kilahña: Tuhan mendeŋar döaña lalu meŋabulkanña. Saŋ pasiεn akan dituntut untuk memberikan kesaxian betapa baïkña Tuhan! Akantetapi, jika pasiεn itu mati, maka pendöa akan berkelit bahwa Tuhan puña rencana laïn yaŋ lebih bagus yaŋ tidaq kita ketahuï. Itu adalah rahasia Tuhan! Merεka bersèpεkulasi bahwa setelah meniŋgal si sakit tidaq akan sakit lagi tetapi tiŋgal bersama Tuhan deŋan penuh kegembiraan! Kalau Tuhan itu serbarahasia, misterius, taqdapat diketahuï rencanaña, darimana merεka taü bahwa oraŋ yaŋ meniŋgal setelah didöaï pasti bahagia di alam sana? Dari yaŋ tertulis di kitab? Bagaimana kalau Tuhan puña rencana laïn yaŋ berbεda dari yaŋ tertulis di kitab?

Tanpa berdöa pun oraŋ sakit mëŋhadapi 2 kemuŋkinan yäitu sembuh atau mati. Jadi samasaja, tidaq ada kelebihan dari berdöa. Kecuali muŋkin εvεk sugesti yaŋ bisa bikin tenaŋ pikiran. Kalau Tuhan itu mahataü maka kita tidaq perlu berdöa meminta apa pun dari Tuhan, karena Tuhan pasti memberikan apa yaŋ tepat bagi kita yaŋ tidaq kita meŋerti. Tuhan lebih taü kebutuhan kita daripada yaŋ kita rεŋεqkan kepadaña. Olεhkarenäitu, berdöa untuk meminta sesuatu adalah tidaq konsistεn deŋan gagasan kemahataüan dan kewεläsasihan Tuhan. Saya selalu merasa geli mendeŋar oraŋ me-rεŋεqδ dan me-ŋemisδ kepada Tuhan.

Hal ini berlaku juga untuk perkaraδ yaŋ laïn seperti minta jodoh, minta keselamatan, minta kebërhasilan dsb.

Bagaimana deŋan agama Buddha? Dalam agama Buddha tidaq ada konsεp meminta, apalagi meminta pada suatu sosok yaŋ dïaŋgap “mahakuasa” dsb. Agama Buddha meŋajari kita untuk melihat dan mëŋhadapi keñataan hidup yaŋ sebenarña. Suka-duka, untuŋ-rugi, dipuji-dicela, terkenal dan tersisih adalah kondisi duniawi (aṭṭha loka dhamma) yaŋ wajar dïalami semua oraŋ apa pun agamaña atau pun taqbëragama. Demikian pula deŋan menjadi tua, sakit dan mati (jarā, byādhi, maraṇa). Kita harus mëŋhadapiña deŋan bijaxana deŋan kekuatan kita sendiri bukan deŋan me-mintaδ, me-rεŋεqδ dan me-ŋemisδ kepada Tuhan. Umat Buddha bisa meŋembaŋkan ketenaŋan pikiran dalam mëŋhadapi suasana buruk, tidaq perlu disugesti deŋan döa ke-kanakδan. Diri-sendiri adalah pelinduŋ bagi diri-sendiri.

Nah, kembali ke topik “mohon döa”. Ada oraŋδ yaŋ suka mohon döa atau minta didöaï, dan ada oraŋδ yaŋ gemar mendöaï oraŋ laïn. Maka, kalau kelompok pertama minta didöaï kepada para pendöa dari kelompok yaŋ kedua – klop baŋet dεh jadiña.

Almanak 2011

Januari


(1) Tahunbaru Masehi.


(2) Kompas memuat tulisan Devina dari Raffles Hills, Dεpok, Jawa Barat di kolom Surat Pembaca berjudul “Pria Berkacamata Memakai Wig” bahwa ia meŋaku pada hari Kemis taŋgal 30 Sεptεmber 2010 sepenerbaŋan deŋan pria mirip Gayus ke Siŋapura deŋan paxi AirAsia nomor QZ 7780 dari Jakarta pukul 11.20. Waktu hal ini dipertañakan kepada Gayus, ia marahδ. Beberapa hari kemudian terbukti ia benarδ pergi ke luarnegeri, tidaq haña ke Siŋapurna, bahkan ke Kuala Lumpur hiŋga ke Makau! Maka, Gayus kembali bikin hεboh. Ia pergi ke luarnegeri meŋgunakan paspor aspal deŋan nama Soni Laksono. Selaïn itu ia juga puña paspor dari Rεpublik Guyana deŋan nama Joseph Morris sedaŋkan istriña meŋgunakan nama Ann Morris.


(8) Sudwikatmono, saudara tiri mantan Prεsidεn Soeharto, meniŋgal pada hari Sabtu pagi di RS Mount Elizabeth, Siŋapura.


(8) Elfa Secioria Hasbullah, kelahiran Garut, Jawa Barat, 20 Pεbruari 1959, meniŋgal pada hari Sabtu sorε di RS Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Jakarta setelah dirawat beberapa hari.


(8) Liga Primεr Indonεsia (LPI) yaŋ diprakarsaï Arifin Panigoro diluncurkan Sabtu malam. LPI ditentaŋ olεh PSSI yaŋ meñeleŋgarakan Liga Super Indonεsia (LSI).


(14) Unjükrasa besarδan di Tunisia membuat Prεsidεn Zine al-Abidine Ben Ali, yaŋ berkuasa sejak tahun 1987, melarikan diri ke Arab Saüdi. Kebërhasilan unjükrasa yaŋ menjuŋkalkan pemimpin diktator ini kemudian menjaŋkiti negaraδ tetaŋga Tunisia.


(16) Bona Paputungan, mantan napi dari Sulawεsi, menciptakan lagu “Andai Aku Jadi Gayus” yaŋ dïuŋgah ke YouTube. MεtroTV yaŋ pertama memberitakanña. Dalam sekejap lagu ini laŋsuŋ masyur dan Bona dïundaŋ ke pelbagai sètasiun TV.


(19) Gayus Halomoan Partahanan Tambunan (pegawai kantor pajak) dan Haposan Hutagalung (mantan peguam Gayus) divonis 7 tahun penjara dan denda Rp 300 juta.


(21) Prεsiden SBY cürhat bahwa gajiña sudah 7 tahun tidaq naïkδ. Laŋsuŋ saja mεdia dan masyarakat me-ŋolokδña habisδan. ‘Tapi Mentri Këuaŋan segera menaŋgapiña deŋan serius yäitu berencana menaïkkan gaji Prεs, WaPrεs dan sejümlah pejabat tiŋgi laïnña pada tahun ini juga.


(23) Di persawahan dusun Jogomaŋsan, dεsa Jogotirto, kecamatan Berbah, Slεman (DIY) yaŋ dïapit 3 bukit (gunuŋ Suru, bukit Beŋkal dan candi Abaŋ) muncul cakraladaŋ (crop circle) bergaristeŋah sekitar 70 m. Menurut pemilik sawah, pada hari Sabtu kemarinña cakraladaŋ itu belum ada. Cakraladaŋ itu berbentuk gambar muladhara namun ada beberapa ketidaqsetaŋkupan (tidaq simetris). Belakaŋan, para ahli dari Lapan meñatakan bahwa cakraladaŋ itu buatan manusia.


(24) Hari Senεn, di bandara Domodεdovo, Moskwa terjadi seraŋan bom bunuhdiri yaŋ menεwaskan 35 oraŋ dan melukaï lebih dari 100 oraŋ.


(25) Penaŋkapan sejümlah tεroris (yaŋ sebagian besar masih remaja) olεh Dεnsus88 di Klatεn, Jawa Teŋah.


(25) Unjükrasa besarδan antipemerintah meletus di Mesir.


(26) Terbit 10 buku sεri “Lebih Dekat deŋan SBY” yaŋ dijadikan buku-ajar di sejümlah däεrah.


(27) Unjükrasa besarδan antipemerintah meletus di Yaman.


(28) KMP “Laüt Teduh” meŋalami kebakaran dan KA tabrakan di Banjar.


(28) Arthalyta “Ayin” Suryani bεbas bersyarat.


(29) Cakraladaŋ ketiga muncul di sawah KH Yasin di dusun Kumbaŋan, dεsa Bañusari, kecamatan Tegalrejo, kabupatεn Magelaŋ.


(31) Phra Dharmawisuthimongkol atau yaŋ dikenal sebagai Luang Ta Maha Bua (Maha Boowa) wavat. Saat Mwaŋthai meŋalami krismon pada sekitar tahun 1996, beliau bërhasil meŋgerakkan umat untuk memberikan sumbaŋan kepada negara. Saat itu terkumpul sekitar USD 12 juta dan 20 ton emmas!



    Pεbruari


    (2) Romboŋan pertama 300-an WNI yaŋ dïuŋsikan dari Mesir tiba di Indonεsia.


    (3) Tahunbaru Ïmlεk TK-2562. Ada yaŋ meŋatakan tahun 4709 (seperti pada iklan Baŋ “Kumis” Foke) karena dihituŋ dari waŋsa Qin berkuasa saat penaŋgalan itu mulai digunakan.


    (4) Unjükrasa besarδan antipemerintah yaŋ meletus di Mesir berlaŋsuŋ terus hiŋga hari Jümat ini dan semakin kejam sehiŋga korbanδ berjatuhan. Para dεmonsètran menargεtkan hari ini sebagai batas ahir kekuasaan Prεsidεn Hosni Mubarak. Terñata gagal, Prεsidεn Hosni Mubarak masih bertahan hiŋga semiŋgu kemudian bahkan sempat melakukan beberapa manuver untuk meredam unjükrasa a.l. deŋan menaïkkan gaji pegawai pemerintah.


    (5) Sabtu dinihari, Raden Pandji Chandra Pratomo Samiadji Massaid (Adjie Massaid) meniŋgal akibat seraŋanjantuŋ sehabis bermaïn sεpakbola.


    (6) Terjadi peñeraŋan tërhadap rumah aŋgota Jemaat Ahmadiyah (JA) di dεsa Cikorε, Cikeusik, Pandeglaŋ, Banten, yaŋ menεwaskan 3 oraŋ (akibat pemukulan ber-tubiδ dan be-ramaiδ) dan 5 oraŋ luka parah. Peñeraŋan itu tampakña terkoordinir dan bërasal dari luar Cikeusik. Ini terbukti dari pita biru dan hijau yaŋ dikenakan para-peñeraŋ. Adegan pembantaian ini terekam dan dïuŋgah ke YouTube. Polisi terkesan membiarkan peristiwa ini terjadi.


    (8) Terjadi kerusuhan di Temaŋguŋ, Jawa Teŋah, setelah hakim membacakan vonis berupa 5 tahun penjara kepada Antonius Richmond Bawengan, sëoraŋ peŋinjil, yaŋ melakukan penistaan tërhadap agama [Islam]. Para-perusuh itu tampakña bërasal dari luar Temaŋguŋ dan terkoordinir. Para-perusuh membakar geduŋ Gerεja Pantεkosta di Indonεsia, Gerεja Bεthel Indonεsia (GBI, termasuk Sekolah Kristen Shεkinah) dan Gerεja Katolik Santo Pεtrus & Paulus.


    (10) Patuŋ Buddha “tidur” di Mahawihara Mojopahit, dεsa Bejijoŋ, Trowulan, Mojokerto mendapat pëŋhargaan rεkor Muri sebagai patuŋ Buddha “tidur” terbesar di Indonεsia.


    (11) Ahirña, pada hari Jümat malam di teŋah berlaŋsuŋña unjükrasa yaŋ kian hεbat, Wakil Prεsidεn Omar Sulaiman mempermaqlumkan peŋundurdirian Prεsidεn Hosni Mubarak. Raqyat Mesir merayakanña deŋan luapan kegembiraan hiŋga beberapa hari.


    (14) Bustanil Arifin meniŋgal.


    (15) Maulid Nabi Muhammad SAW.


    (17) Meñusul terguliŋña Hosni Mubarak, sejümlah negara tetaŋga Mesir juga diguncaŋ unjükrasa besarδan untuk menjatuhkan pemimpinδña yaŋ sudah saŋat berkuasa a.l. : Libia, Bährain dan Iran. Unjükrasa di Iran segera ditumpas, di Bährain agaqña patahsemaŋat setelah dilibas tentara asiŋ bayaran, sementara di Libia tampakña kian hari kian hεbat.


    (22) Gempa sekuat 6,3 SR meŋguncaŋ kota Christchurch di Selandiabaru dan menimbulkan kerusakan besar.


    (23) Sekretaris Kabinεt, Dipo Alam, mencanaŋkan pemboikotan MεtroTV, Mεdia Indonεsia dan TVOne karena dïaŋgap selalu memberitakan halδ yaŋ buruk tentaŋ Pemerintah hususña Prεsidεn SBY. Akibat hal ini ia menjadi bulanδan mεdia dan disomasi MεtroTV.


    (24) Pemimpin Libia, Muammar Khadafi, menεmbakmati 130 tentaraña yaŋ tidaq patuh. Unjükrasa di Libia berlaŋsuŋ terus setiap hari dan semakin hεbat. Korban juga makin bañak. Sementara itu unjükrasa di Yaman, yaŋ mulaïña lebih dulu daripada di Mesir, agaqña sudah kekuraŋan tenaga. Pemimpin Yaman tetap berkuasa hiŋga saat ini meski unjükrasa masih berlaŋsuŋ.


    (25) Menjelaŋ köŋrεs PSSI, penentaŋan tërhadap Nurdin Khalid, yaŋ mencalonkan diri kembali untuk kala ketiga, kian kuat. Apalagi setelah kedua pesaïŋña, Arifin Panigoro dan Jεndral George Toisuta, disiŋkirkan. Unjükrasa antiNurdin setiap hari terjadi di pelbagai däεrah. Juga terjadi bentrokan deŋan pendukuŋ Nurdin yaŋ membakar voto Andi Mallarangeng.


    Maret


    (1) Maryani (Xiaw Fung), istri Mentri Єkonomi zaman Gus Dur Rizal Ramli, meniŋgal akibat sakit kaŋker di RS Pondok Indah pukul 15.55 pada usia 47 tahun.


    (5) Hari Ñepi / Tahunbaru Saka TS-1933.


    (8) Muncul lagu “Kisah Si Udin” (“Udin Sedunia”) bikinan sesëoraŋ yaŋ juga bernama Udin dan dïuŋgah di YouTube.


    (8) Hari Perempuan Internasional.


    (9) Hari Musik Nasional jatuh pada hari ini –taŋgal 9 Maret– yäitu hari kelahiran WR Supratman.


    (11) Berbareŋan deŋan kedataŋan Waprεs Boediono ke Australia, koran Australia The Age dan Sidney Morning Herald memuat berita utama yaŋ dikutip dari Wikileaks tentaŋ peñalahgunaan kekuasaan olεh Prεsidεn SBY. Judul berita pada The Age adalah “Yudhoyono Abused Power”. Dalam berita itu disebutkan secara teraŋδan nama sejümlah tokoh yaŋ terlibat. Bahkan TB Silalahi, mantan mentri sεnior yaŋ juga menjadi penasihat SBY, diñatakan sebagai invorman AS, Akibat pemberitaan ini, Ibu Ani menaŋis ter-seduδ dan SBY batal sholat Jümat karena tidaq εnakbadan. Sementara itu, meski sudah meñatakan bahwa berita itu “berita sampah”, para oraŋdekat Prεsidεn termasuk beberapa mentri ber-lombaδ membantahña.


    (11) Siaŋ-hariña, pada pukul 14.46 waktu setempat terjadi gempa hεbat di Jepaŋ sekuat 8,9 SR yaŋ disusul sejümlah gempa susulan yaŋ cukup kuat. Ini adalah gempa terkuat di Jepaŋ dalam kurun waktu 200 tahun tërahir. Gempa ini menimbulkan sèmoŋ (tsunami) besar yaŋ mëŋhancurkan sejümlah kota di Jepaŋ dan sèmoŋ ini mencapai beberapa negara termasuk Indonεsia bagian timur. Korbanña belasan ribu oraŋ. Sistim pendiŋinan PLTN Daiichi Fukushima rusak, rεaktorña bocor dan tarav radiasi yaŋ saŋat tiŋgi terdεtεxi hiŋga ke laüt.


    (15) Tiga pakεt bom dalam buku dikirim ke tiga alamat berbεda di Jakarta. Pakεt pertama dïalamatkan ke Komunitas Utan Kayu deŋan tujuan pendiri Jariŋan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdhalla. Pakεt kedua kepada Kepala Pelaxana Harian (Kalakhar) Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjεn Gories Merre. Dan ketiga, kepada Ketua Pemuda Pancasila Yapto S Soeryosumarno. Peŋirim ketiga pakεt bom tersebut sama, yaqni Drs. Sulaiman Azhar LC, Jl Bahagia Gaŋ Panser no 29, Cïomas, Bogor. Bom di kantor BNN dan Utan Kayu dikirim olεh kurir lakiδ pada jam sama, yaqni 10.00 WIB. Peŋirim ke rumah Yapto belum dipastikan karena masih diselidiki. Haña bom di Utan Kayu yaŋ meledak sehiŋga meñebabkan jatuh korban lima oraŋ terluka. Korban paliŋ parah adalah Kasat Rεskrim Polrεs Jakarta Timur Kompol Dodi Rahmawan. Jari taŋan kiriña taqterselamatkan sehiŋga harus dïamputasi. Untuŋ lah bom untuk Yapto dan Gories Mere belum meledak. Bom di BNN diledakkan dan yaŋ di rumah Yapto terperεtεli raŋkaianña. Setelah itu pada hariδ berikutña tεror bom buku dll menjadi ramai. Umumña palsu, tetapi yaŋ ada di kota Wisata adalah bom asli dan meledak juga.


    (23) Aktris legendaris Hollywood, Elizabeth Taylor, meniŋgal pada hari Rabu pada usia 79 tahun setelah dirawat selama 6 miŋgu di RS Cedars Sinai di Los Angeles.


    (24) Gempa sekuat 6,8 SR melanda Myanmar, Laos dan Mwaŋthai. Kerusakanña lebih bañak terjadi di Myanmar.


    (28) Selly Yustiawati alias Rasellya Rahman Taher (26) dibekuk polisi dari Polsεk Dεnpasar Selatan setelah menjadi buronan setahun atas puluhan perkara penipuan.


    (29) Polisi menaŋkap MD (Mellinda Dee alias Inong Mellinda), manajer Citibank, dan D, teller Citibank, atas peŋgelapan uaŋ nasabah sebesar Rp. 17 milyar.


    (29) Amanda (16), siswa SMA IPEKA Kristen Internasional tεwas dibunuh sehari menjelaŋ ultahña. Fitri alias Pipit, spiderkid, 2 kali memanjat menara ponsεl lalu memanjat gentεŋ rumah Kaq Seto.


    April


    (22) Hari Jümat-Aguŋ.



    Mεi




    • (17) Hari Waisak TB-2555.





    Juni




    • (2) Hari Kebaŋkitan Yεsus Kristus.


    • (29) Hari Israq-Miqraj Nabi Muhammad SAW.



    Juli







    Agustus




    • (17) Hari Kemerdεkaan Rεpublik Indonεsia.


    • (30) Hari Idulvitri TH-1432.



    Sεptεmber







    Oktober




    • (2) Hari Batik.


    • (28) Hari Sumpah Pemuda.



    Nopεmber




    • (6) Hari Idülädha.



    Dεsεmber




    • (25) Hari Natal.


    Jelajah Tasik – Garut (2)

    Bagian kedua: Garut – Situ Bagendit

    Dari Tasikmalaya kami menuju Garut melεwati Siŋaparna. Saya mencoba meŋambil jalan ini karena belum pernah melaluïña dan –dari peta– saya yakin akan melihat pemandaŋan yaŋ indah. Këadaan jalan dari Tasikmalaya melεwati Siŋaparna, Salawu, Cilawu hiŋga Garut sejaüh 57 km cukup baïk. Perjalanan lancar. Dan benar saja, kami meñaxikan pemandaŋan nan indah di kiri-kanan jalan. Gunuŋδ di kejaühan dan sawahδ di tepi jalan. Suŋguh suatu perjalanan yaŋ meñenaŋkan. Betapa bεdaña deŋan perjalanan di kota Jakarta yaŋ setiap hari saya lakukan.

    Sekitar 1 jam kami tiba di kota Garut. Beberapa saat kemudian kami memasuki pusat kota Garut. Kami mencoba menjelajahiña lebih jaüh lagi daripada yaŋ kami lakukan 5 tahun lalu ketika pertama kaliña kami meŋunjuŋi kota ini. Suasanaña ramai. Di manaδ ditemukan penjual kerupuk kulit, baïk kulit sapi maüpun kulit kerbau. Selaïn dodol, Garut juga terkenal deŋan jakεt kulitña. Mεmaŋ bañak dijumpaï tokoδ jakεt.

    Setelah berkeliliŋ kota sekadarña dan membeli kerupuk kulit, kami menuju ke Cipanas Garut di däεrah Tarogoŋ. (Di Jawa Barat ada sejümlah tempat yaŋ bernama Cipanas karena di tempatδ itu terdapat “cipanas” yäitu sumber aïr panas. Ini terjadi karena di Jawa Barat terdapat bañak gunuŋ bërapi.) Saya mencoba me-ŋiŋatδ jalan yaŋ pernah kami laluï 5 tahun lalu. Setelah beberapa waktu mencari ahirña ketemu juga jalan raya Cipanas tanpa harus bertaña kesana-kemari yaŋ haña akan meŋuraŋi nilai belaka.

    Kami melεwati hotεl Єmpaŋ Asri yaŋ pernah kami inapi. Këadaanña masih sama seperti 5 tahun lalu: di halaman depanña terdapat sebuah εmpaŋ besar yaŋ tenaŋ. Koq, suasanaña leŋaŋ sekali. Hεi, ke mana hamparan sawah yaŋ luas di sampiŋ hotεl? Kami meñusuri jalan raya Cipanas hiŋga ke pertigaan. Di pertigaan ini lah pusatña Cipanas Garut. Di sekitar pertigaan terdapat sejümlah rumahmakan dan peŋinapan yaŋ letakña berdekatan. Tampakña kini jümlahña bertambah; hotεlδ baru bermunculan. Hotεlδ di dekat pertigaan ini memiliki këuŋgulan yäitu mendapat jatah aïr panas dari cipanas di dekat situ. Hotεl yaŋ letakña agaq jaüh dari pertigaan ini seperti hotεl Єmpaŋ Asri –yaŋ terletak beberapa ratus mεter dari situ– tidaq kebagian aïr panas gunuŋ sehiŋga sepi dan tarivña lebih murah. Dari pertigaan kami berbεlok ke kanan. Di sini terdapat sebuah hotεl yaŋ menjadi lambaŋ pariwisata däεrah Cipanas Garut: hotεl Sumber Alam. Hotεl ini paliŋ ramai dan paliŋ menarik penataanña: kamarδña bërada di atas aïr. Untuk meŋinap di sini kita harus memesanña jaühδ hari. Sakiŋ ramaiña sampaiδ ketika kami dataŋ ke situ kami tidaq begitu dilayani. Itu peŋalaman 5 tahun y.l. Kami mεmaŋ tidaq memesan kamar terlebih dulu dan kamar hotεl sudah habis dipesan dan diisi oraŋ. Kali ini pun kami tidaq berniat meŋinap di situ. Kami me-lihatδ beberapa hotεl lalu kami putuskan untuk memilih hotεl Nugraha, letakña tepat di seberaŋ hotεl Sumber Alam. Tarivña Rp 200.000 semalam untuk kamar sètandar A deŋan 1 ranjaŋ pegas. Kami seŋaja memilih kamar di lotεŋ agar dapat melihat pemandaŋan sekitar deŋan leluasa.

    Setelah memboŋkar baraŋδ bawaan, kami meñantap soto dagiŋ sapi H.Didi dari Tasikmalaya yaŋ kami beli dalam perjalanan menuju Garut. Єnak sekali sotoña. Sesudah bëristirahat sejenak mulaï lah kami menuju tujuan kedua setelah Gunuŋ Galuŋguŋ yäitu situ (danau) Bagendit. Seperti halña situ Patεŋan (ada yaŋ meñebut Patεŋgaŋ), situ Bagendit pun puña cerita asalmulaña. Sayaŋ saya sudah lupa ceritaña ...

    Ketika beraŋkat, cuaca agaq menduŋ. Dari Cipanas ke kawasan wisata Situ Bagendit taqjaüh jarakña. Jalanña cukup bagus meski agaq kecil dan sepi. Taqlama kemudian kami tiba, dan gerimis pun mulaï turun. Saya bergegas memarkir mobil. Rεtribusi masuk kendaraan roda empat untuk sekali parkir di kawasan wisata sebesar Rp 3.000, sedaŋkan karcis masuk oraŋ juga Rp. 3.000.

    Gerimis bërubah menjadi hujan dan aŋin. Ini seperti ketika kemarin kami tiba di kawasan wisata Cipanas – Galuŋguŋ. Kami buruδ mencari tempat berlinduŋ. Dari tempat parkir kami melεwati pintu masuk, lalu menuruni undakan. Di sebelah kanan ada permaïnan berupa kerεtaapi mini yaŋ tiŋgal rεlña. Di sebelah kiri ada tεndaδ tempat oraŋ berjualan. Di tepi danau ada tempat bernaüŋ deŋan tempat duduk dari bambu yaŋ dilarik seperti rakit. Kami duduk di situ sambil memegaŋi payuŋ untuk menahan tempias hujan. Di depan kami terbentaŋ danau yaŋ luas. Di kejaühan tampak gunuŋδ berselimutkan kabut seperti pada lukisanδ cat aïr dari Tyoŋkok dalam tatawarna hitam-putih. Sementara di atas danau, gumpalan awan hitam meŋgantuŋ menaüŋi kami. Agaq mencekam. Untuŋ taqlama kemudian hujan reda dan cuaca bërubah menjadi lumayan cerah. Rupaña awan hitam pembawa hujan haña melεwati danau.

    Kami berjalan ke dermaga dan bervoto. Sëoraŋ lelaki seteŋah umur mendekati kami menawarkan naïk rakit. Rupaña ia tukaŋ rakit. Ya, sarana wisata di situ ini –selain permaïnan keretaapi mini yaŋ sudah tidaq bervuŋsi itu– adalah naïk perahubεbεk [yaŋ dikayuh] dan rakit. Rakitña dileŋkapi deŋan mεja dan kursi di kedua sisiña dan bëratap terpal. Saya tidaq meŋerti meŋapa harus disediakan mεja së-olahδ penumpaŋ sedaŋ mëŋhadapi mεjamakan.

    Kami naïk rakit yaŋ dikemudikan lelaki itu. Selaïn kami ada satu keluarga lagi yaŋ ikut yäitu sepasaŋ suami-istri dan sëoraŋ anak perempuan yaŋ terñata adalah cucuña. Tukaŋ rakit menolakkan rakit deŋan galah panjaŋ. Dari bagian galah yaŋ tercelup ke dalam situ tampak lah situ ini tidaq dalam – paliŋ sekitar 2 hiŋga 3 mεter kedalamanña. Aïrña cukup bersih. Tidaq tampak εncεŋgondok.

    Kabut yaŋ meñelimuti gunuŋ sudah sirna. ‘Bila kita memandaŋ dari situ ini, tampak lah di kejaühan gunuŋδ meŋeliliŋiña. Suŋguh pemandaŋan yaŋ indah. Di teŋah situ ada beberapa waruŋ tërapuŋ yäitu waruŋ yaŋ bërada di atas rakit yaŋ ditambatkan di teŋah situ. Ke sana lah kami dibawa. Rupaña begini lah tatacara bertamasya deŋan rakit di sini: penumpaŋ dibawa ke waruŋ tërapuŋ di teŋah situ. Waruŋ itu menjual kelapa muda, kopi dan makanan riŋan pabrikan. Tukaŋ rakit menambatkan rakit setelah merapatkanña sejajar deŋan salahsatu waruŋ yaŋ dijaga olεh anak perempuanña. Kami membeli 2 butir kelapa muda dan meñantapña di mεja rakit yaŋ kami tumpaŋi. Oh, jadi untuk maxud itu lah di sediakan mεja di rakit.

    Dari percakapan deŋan tukaŋ rakit, saya mendapat bañak keteraŋan tentaŋ tempat wisata di sekitar Garut. Dia juga taü tentaŋ gunuŋδ yaŋ meŋeliliŋi situ ini ‘tapi dia tidaq taü waktu saya taña tentaŋ gunuŋ Puntaŋ. Suami-istri yaŋ bersama kami itu juga senaŋ ber-cakapδ. Cucu perempuan merεka itu tiŋgal di Batam bersama oraŋtuaña dan baru beberapa bulan tiŋgal bersama merεka dan baru mulaï belajar bahasa Sunda. Saŋ suami yaŋ gemar bertualaŋ itu tampakña sëoraŋ pensiunan tentara.

    Setelah selesai merokoq dan bëristirahat, tukaŋ rakit mulai menjalankan rakit lagi. 2 butir batok kelapa sisa kami dihañutkanña di situ. Ketika kami tañakan kenapa tidaq dibawa kembali ke tepi situ untuk dibuaŋ di darat agar tidaq meŋotori situ, ia menjawab ‘biar saja karena ada pembersihan situ berkala’. Sementara itu cucu perempuan suami-istri itu membuaŋ kemasan makanan riŋan ke situ. Tampakña kesadaran untuk memelihara kebersihan liŋkuŋan belum tumbuh di masyarakat. Di dermaga pun bañak sampah berupa buŋkusan makanan bertebaran, sementara pekiwanña (toilet) saŋat kotor. Sayaŋ sekali, potεnsi wisata situ ini belum dikembaŋkan deŋan baïk tetapi peŋotoranña telah berlaŋsuŋ deŋan pasti.

    Sekembaliña ke dermaga kami melanjutkan perjalanan. Karena iŋin melihat Garut lebih bañak lagi, saya tidaq memutarbalik haluan menuju ke Cipanas melaïnkan meneruskan perjalanan memutar melaluï Leuwigooŋ dan Lεlεs. Jalanña cukup panjaŋ namun bagus, ber-kεlokδ, naïk-turun dan pemandaŋanña indah. Meñenaŋkan rasaña bisa menjelajahi wilayah yaŋ belum pernah kami laluï.

    Sebelum kembali ke hotεl, kami menuju pusat olεhδ di ujuŋ jalan Otista. 5 tahun lalu kami berbelanja di sini waktu malam. Setelah berbelanja, kami membeli makanan di rumahmakan Pujasega. Rumahmakan ini tampakña berkelas, mεwah dan agaq gelap bagian depanña. Dεkorasiña tidaq seperti rumahmakan sunda pada umumña. Ada layar lεbar dan tampakña semalam ada acara nobar (nonton bareŋ) sεpakbola. Di dindiŋ tergantuŋ bañak pigura yaŋ bërisi tandataŋan artisδ dan pejabatδ. Terñata rumahmakan ini puña bagian belakaŋ yaŋ berbεda suasanaña. Di belakaŋ terdapat taman terbuka yaŋ luas dan indah serta tempat makan lεsεhan has sunda deŋan pondokδña. Kami membeli makanan untuk dibawa ke hotεl karena Mama masih keñaŋ jadi tidaq bisa menikmati suasana makan di situ. Pelayanan rumahmakan ini bagus. Nasi tutug oncom dll dibuŋkus dalam dus yaŋ bagus juga.

    Malam ini kami haña menikmati suasana malam di sekitar hotεl setelah meñantap nasi dus Pujasega yaŋ εnak itu. Tamuδ yaŋ dataŋ bertambah bañak dan tariv hotεl pun diganti deŋan tariv husus untuk ahir tahun. Meski belum malam tahunbaru, kembäŋapi telah meluncur silih berganti mëŋhiasi aŋkasa. Rupaña di kawasan ini suasana amat semarak seperti di Puncak. Kian malam hawa kian diŋin. Kami belum bisa menikmati berendam di aïr haŋat ‘tapi untuk mandi aïrña cukup haŋat tanpa perlu pemanas aïr.

    Pagihari hawaña masih cukup diŋin. Setelah sarapan, sekitar jam 8 baru lah kami menikmati aïr haŋat dari gunuŋ di kolam renaŋ sekitar 1 jam lebih. Meŋasikkan mεmaŋ. Saya meñempatkan menjelajahi hotεl ini. Bagian belakaŋ hotεl ini terñata ada kamarδ di atas aïr. Selesai berenaŋ kami ber-kemasδ untuk kembali ke Jakarta karena kami agaq cemas meniŋgalkan Lulu sendirian terlalu lama. Sebelum pulaŋ kami bërusaha mencari tukaŋ tahu gorεŋ yaŋ kami temuï 5 tahun lalu ‘tapi tidaq ketemu. Lalu, karena menjelaŋ teŋahhari, kami makansiaŋ dulu di waruŋ nasi Pasawahan di jalan Otista. Selanjutña perjalanan pulaŋ ke Jakarta. Selamattiŋgal Garut, kami ‘kan kembali.

    Jelajah Tasik – Garut (1)

    Bagian pertama: Tasikmalaya – Gunuŋ Galuŋguŋ

    Liburan Lebaran yaŋ lalu kami terpaxa tidaq ke manaδ karena harus merawat Tscholky, anjiŋ pemberanian kami, yaŋ sakit. Ia meŋalami pyometra sehiŋga harus dïoperasi. Liburan ahir tahun ini adalah kesempatan tërahir tahun ini untuk bepergian. Setelah beberapa kali meŋalami përubahan rencana –ke Manado batal, ke Lampuŋ batal– ahirña kami putuskan untuk petualaŋan ahir tahun ini kami akan menjelajahi Tasikmalaya dan Garut deŋan tujuan utamaña gunuŋ Galuŋguŋ.

    Maka, pada hari Miŋgu taŋgal 26 Dεsεmber 2010 jam 05.11, kami berlima (seperti tahun lalu: saya, istri saya, anak saya, Mama dan Tscholky) beraŋkat menuju Tasikmalaya. Sebenarña, kami iŋin meŋajak juga Lulu, anjiŋ kami yaŋ laïn, namun karena kuatir akan meŋalami kesulitan, deŋan berat hati kami terpaxa meniŋgalkanña di rumah dan memercayakan perawatanña pada kerabat kami.

    Perjalanan menuju Tasikmalaya lancar. Sekitar jam 10 siaŋ kami tiba di kota Tasikmalaya. Baru sebentar memasuki kota, kami sudah melihat petunjuk arah ke tempat wisata Galuŋguŋ. Karena teŋah hari masih agaq lama, kami putuskan untuk tidaq mencari hotεl dulu tetapi laŋsuŋ menuju gunuŋ Galuŋguŋ. Saya merasa wäswas karena menurut invormasi yaŋ saya përolεh dari internεt, jalan menuju gunuŋ Galuŋguŋ rusak cukup parah. Kami berbεlok ke kanan meŋikuti petunjuk itu dan terñata laŋsuŋ mendapati jalan rusak. Demikian lah umumña këadaan tempat wisata yaŋ pernah kami kunjuŋi. Jalan untuk mencapaiña seriŋ rusak dan petunjukña kuraŋ. Negeri kita mεmaŋ kaya akan sumber daya alam yaŋ hεbat tetapi [pemerintah] kita tidaq pandai meŋelolaña deŋan baïk, haña pandai merusakña deŋan proyεkδ anεh.

    {Papan petunjuk arah ke kawasan wisata Galuŋguŋ.}

    Di teŋah perjalanan, saya sempat raguδ untuk meneruskan perjalanan. Saya kuatir kalauδ këadaanña seburuk jalan menuju gunuŋ Halimun di Sukabumi, bisaδ mobil jadi rusak. Kami bërhenti sebentar di sebuah waruŋ. Ketika muncul beberapa buah mobil Avanza dari arah berlawanan melaluï jalan itu baru lah saya agaq yakin bahwa jalan itu masih bisa dilaluï mobil sejenis Avanza deŋan selamat. Kami pun melanjutkan perjalanan setelah membeli beberapa potoŋ pisaŋ dan ubi gorεŋ dari waruŋ itu.

    Jalan menuju gunuŋ Galuŋguŋ sepanjaŋ 8 km itu sebagian besar hancur aspalña dan haña ditaburi kerikil untuk menutupi lubaŋδña. Jalan itu agaq sempit, harus saŋat ber-hatiδ dan apabila berpapasan deŋan kendaraan laïn, salahsatuña harus meŋalah untuk mendahulukan kendaraan yaŋ laïn.

    {Jalan menuju kawasan wisata Cipanas – Galuŋguŋ rusak parah.}

    Kami melεwati sebuah përempatan yaŋ këadaan jalan ke arah kiri dan kananña bagus, sedaŋkan kami harus meŋambil arah lurus yaŋ këadaanña rusak. Ahirña sampai lah di gerbaŋ kawasan wisata Cipanas- Galuŋguŋ. Harga karcis untuk oraŋ (dεwasa) Rp 4.200, anjiŋ taqdihituŋ. Yaŋ anεh, untuk mobil di sini dikenakan puŋutan 2 kali yäitu: “retribusi masuk kendaraan” sebesar Rp 4.000 dan “ karcis parkir mobil” sebesar Rp 3.000 meskipun masih dalam 1 kawasan. Puŋutan yaŋ anεh!

    Këadaan jalan di dalam kawasan wisata jaüh lebih baïk daripada di luar tadi. Begitu melεwati gerbaŋ, jalan bercabaŋ dua: yaŋ kiri –jalanña menanjak– menuju ke kawah gunuŋ Galuŋguŋ; yaŋ kanan –jalanña tidaq begitu menanjak– menuju ke permandian aïr panas (Cipanas). Kami meŋambil yaŋ kiri.


    Sementara itu, cuaca bagus yaŋ menemani kami sejak beraŋkat dari Jakarta, bërubah menjadi menduŋ. Hujan pun turun, mulai gerimis di depan gerbaŋ hiŋga menjadi lebat dalam sekejap. Saya meŋalami kesulitan meŋemudikan mobil karena kaca mobil berkabut (AC tidaq diñalakan agar tidaq membebani mobil di tanjakan), jarak pandaŋ yaŋ pεndεk, jalan yaŋ sempit, menanjak dan licin sementara saya tidaq taü di mana dan seberapa jaüh tepatña sasaran yaŋ kami tuju. Karena merasa këadaan cukup berbahaya, saya putuskan untuk bëristirahat dulu sambil menuŋgu hujan reda. Saya mencari bagian jalan yaŋ agaq datar, ‘tapi tidaq ketemu, sedaŋkan hujan tidaq jua mereda. Ahirña saya temukan tepi jalan yaŋ agaq lεbar untuk menepi. Terñata bagian jalan itu masih cukup miriŋ dan permukaanña licin akibat aliran aïr hujan yaŋ cukup deras. Kami mencoba meŋisi perut deŋan lontoŋ bawaan karena saat itu sudah teŋahhari. Tibaδ, terdeŋar buñi ‘grek, grek’. Rasaña mobil bergerak sedikit meski sudah saya gunakan rεm parkir dan persèneliŋ dimasukkan. Hati saya jadi ber-debarδ takut kalauδ mobil mendadak merosot mundur. Istri saya memeriŋatkan agar kami tidaq meŋgerakkan tubuh deŋan keras. Ini seperti adεgan dalam vilem yäitu mobil yaŋ hampir masuk juraŋ tetapi tersaŋkut pada dahan kecil di tepiña. Sedikit gerakan tubuh penumpaŋña akan membuat mobil kehilaŋan kesëimbaŋan dan masuk ke juraŋ. Suasana heniŋ sejenak. Saya mencoba makan lagi. Tibaδ, ‘grek, grek’, buñi itu terdeŋar lagi. Kami makin cemas, sementara hujan belum reda juga. Hampir sepërempat jam kami bërhenti sementara buñi ‘grek, grek’ itu terdeŋar ber-kaliδ. Kecemasan ini harus segera dïahiri. Ketika curah hujan sedikit meŋecil, saya putuskan untuk segera bergerak meniŋgalkan tempat itu. Rasaña ŋeri waktu meŋgerakkan mobil mundur lalu menanjak lagi deŋan jalan licin seperti itu. Kami melaluï dua kεlokan dalam beberapa detik saja dan tibaδ ... di depan kami terbentaŋ tempat parkir kendaraan yaŋ luas dan datar! Sial! Terñata tempat kami bërhenti tadi itu sudah saŋat dekat deŋan tempat parkir yaŋ dituju! Suŋguh, berpacu jantuŋ yaŋ taqperlu!

    Setelah memarkir mobil, kami belum bisa turun karena hari masih hujan meski tidaq begitu lebat. Saya mencoba turun sendiri berpayuŋ me-lihatδ sekitar. Terñata, peŋunjuŋ cukup ramai, bañak sepεdamotor dan mobil di parkir di situ. Oraŋδña berteduh di waruŋδ di piŋgir lahan parkir. Lalu, saya mencari jalan menuju kawah gunuŋ Galuŋguŋ. Puncak gunuŋ Galuŋguŋ agaq mirip kerucut. Tiada pohonδ besar di lεrεŋña yaŋ membentuk hutan melaïnkan semakδ dan pohonδ kecil. Deŋan këadaan seperti itu, ibaratña oraŋ mesti meŋgunakan taŋga untuk mencapai kawahña, seperti di gunuŋ Bromo. Dan, taŋga itu sudah disediakan, terbuat dari semεn, dan jümlah anaktaŋgaña 620 buah.

    Ahirña hujan bërhenti. Kami bertiga akan naïk ke kawah, Mama dan Tscholky menuŋgu di mobil.
    Dari bawah, tampakña taŋga itu biasa saja haña tiŋgiña undakan di bagian bawah yaŋ hampir selutut membuat cepat lelah. Kami bërhenti beberapa kali untuk rεhat sejenak sambil bervoto. Pemandaŋanña mεmaŋ permai. Mendekati kawah, saya merasa saŋat kecapaian. Tiŋgal beberapa anaktaŋga lagi, saya paxakan mencapaiña. Ahirña sampai juga, ‘tapi saya tidaq dapat melonjak giraŋ. Napas ter-seŋalδ, jantuŋ berdetak amat cepat dan keras, kepala berdeñut hεbat seperti hendak pecah, pandaŋan ber-kunaŋδ dan keriŋat diŋin meŋucur membasahi baju. Rasaña seperti akan piŋsan! Perlu waktu lebih dari 20 menit untuk memulihkan këadaan tubuh. Muŋkin ini akibat kuraŋ istirahat karena sejak baŋun pagibuta saya laŋsuŋ meñetir selama 5 jam lalu pacu jantuŋ di tepi tanjakan kemudian mendaki gunuŋ εh menaïki taŋga sebañak 620 undak (620 kuraŋ tilu kata sëoraŋ peŋunjuŋ yaŋ kerajinan mëŋhituŋña!).

    Pemandaŋan di kawah gunuŋ Galuŋguŋ mεmaŋ saŋat indah. Gunuŋ yaŋ meletus pada tahun 1982 ini, kini tertidur untuk sementara waktu. Kawahña menjadi danau belεraŋ yaŋ luas dan indah. Hijau ke-biruδan. Di teŋah danau ada gundukanδ yaŋ meñerupaï pulauδ. Tidaq tercium baü belεraŋ. Aŋin bertiup agaq kencaŋ dan diŋin meñegarkan. Segala jerihpayah untuk mencapai tempat itu lumayan terbayarkan melihat pemandaŋan yaŋ indah permai. Selaïn pemandaŋan kawah, pemandaŋan kota Tasikmalaya dari atas pun memukau.

    Para wisnu sibuk bervoto, berceŋkrama dan berpacaran. Wisman taqterlihat. Di tempat setiŋgi ini, terñata ada sedεrεtan waruŋ seperti di tempat parkir. Terbayaŋ betapa merεka harus naïk-turun taŋga itu setiap hariña. Dan, tentu saja senantiasa ada sampah bekas buŋkus makanan dan minuman berserakan di manaδ!

    Akibat letusan gunuŋ itu awal tahun 80an, di manaδ ditemukan pasir. Tanah di tepi kawah ini juga berupa timbunan pasir hitam. Sepanjaŋ jalan di sekitar Galuŋguŋ terdapat bañak panambaŋan pasir. Bisnis pasir muŋkin yaŋ utama di sini. Selaïn bencana, gunuŋ Galuŋguŋ juga memberikan berkah yaŋ kini masih bisa dinikmati setelah hampir 30 tahun meletus.

    {Tscholky: Hai, aku ada di gunuŋ Galuŋguŋ.}

    Jalan menuju ke tempat parkir tidaq lagi menjadi beban karena kini kami menuruni taŋga. Setelah puas me-lihatδ kami pun meniŋgalkan tempat itu. Jalan menuju ke gerbaŋ deŋan cepat kami laluï. Kami tidaq mampir ke Cipanas (permandian aïr panas) yaŋ bërada di sisi kanan gerbaŋ dari arah masuk. Untuk ke situ pun harus bayar parkir lagi.

    Terpikir olεh kami untuk mencari peŋinapan di sekitar gunuŋ Galuŋguŋ. ‘Tapi dari invormasi yaŋ kami përolεh, di sekitar situ tidaq ada peŋinapan. Hotεl Flamboyan yaŋ bëralamat di jalan Galuŋguŋ pun tidaq kami temukan.

    Tujuan utama kami sudah tercapai. Kini, kami mencari sasaran berikutña yäitu rumahmakanδ yaŋ disarankan (dirεkomεndasikan) dalam acara “kεcap” di salahsatu sètasiun TV. Untuk memudahkanña, kami sekalian mencari hotεl yaŋ bërada di pusat kota. Maka, sasaran berikutña adalah pusat kota Tasikmalaya.

    Dari kawasan wisata Cipanas – Galuŋguŋ ke pusat kota bërarti melalui jalan yaŋ sama yaŋ kami laluï waktu dataŋ. Ketika sampai di përempatan tadi –yaŋ jalan ke arah kiri-kananña bagus- kami penasaran, sëandaiña saja kami bisa melaluï jalan yaŋ lumayan bagus itu. Dari keteraŋan yaŋ diberikan oraŋ di përempatan itu, jalan ke arah kanan bisa menuju ke Siŋaparna. Bagus lah, kalau begitu kami ambil jalan itu.

    Kondisi jalan itu, saat kami melaluïña, lumayan bagus. ‘Tapi di beberapa tempat sudah ada lubaŋδ yaŋ berpotεnsi membesar garisteŋahña. Nama jalan itu Cisiŋa. Kiraδ 5 km (muŋkin lebih) sampai lah di përempatan bërhadapan deŋan pondok pesantrεn Cipasuŋ. Ke kiri menuju kota Tasikmalaya, ke kanan menuju kota Siŋaparna. Maka, ini bisa menjadi jalan laïn menuju gunuŋ Galuŋguŋ: dari kota Tasikmalaya ambil lah jalan menuju kota Siŋaparna; setelah sampai di përempatan yaŋ ada pondok pesantrεn Cipasuŋ di sebelah kiriña, bεlok lah ke kanan yäitu ke jalan Cisiŋa; setelah sampai di përempatan sekitar 5 km kemudian bεlok lah ke kiri, maka jalan rusak yaŋ harus ditempuh tiŋgal sedikit sebelum tiba di gerbaŋ kawasan wisata Cipanas – Galuŋguŋ.

    Dari jalan Cisiŋa kami bεlok ke kiri menuju kota Tasikmalaya. Jalan itu adalah jalan raya Siŋaparna, namun sepanjaŋ jalan kami lihat namaña bër-ubahδ menjadi jalan A.H. Nasution, Cihideuŋ, Yudanegara. Ahirña kami tiba di sebuah bundaran simpäŋlima. Kami pikir itu petanda pusat kota. Lalu kami menjelajahi beberapa jalan simpaŋña deŋan harapan akan menjumpaï keramaian. Bukan tah pusat kota adalah tempat ramai. Añehña, jaüh sedikit dari bundaran suasana menjadi sepi. Kami mencoba melaluï jalan Sewaka (seriŋ ditulis ‘Suaka’) yaŋ menuju ke pantai Cipatujah. Beberapa kilomεter kemudian jalan menjadi sepi seperti sudah bërada di luar kota. Lalu di mana pusat kota? Di mana jalan Perintis Kemerdεkaan? Di mana jalan H.Z. Mustofa tempat Ayam Hen-Hen dan soto dagiŋ sapi H. Didi? Ahirña kami bertaña pada sesëoraŋ. Terñata arah ke Cipatujah dulu yaŋ harus dïambil!

    Kami mencoba lagi melaluï jalan Sewaka yäitu jalan yaŋ menuju ke Cipatujah. Makin lama suasana makin sepi. Setelah lumayan jaüh kami temukan di seberaŋ jalan: Saüŋ Jembar sebuah rumahmakan yaŋ disarankan dalam acara “kεcap”. Sampai di sebuah pertigaan, kami lihat ada petunjuk jalan. Ke kanan ke Cipatujah, ke kiri: jalan Perintis Kemerdεkaan! Benar, di sini kami temukan keramaian. Di kiri-kanan jalan terdapat tokoδ berdεrεt. Di sini ada Ayam Hen-Hen. Setelah melaluï përempatan, kami lurus memasuki jalan H.Z.Mustofa yaŋ suasanaña sama seperti jalan sebelumña. Terñata di sini ada Ayam Hen-Hen lagi dan di seberaŋña ada soto dagiŋ sapi H.Didi (ada dua tempat). Rupaña di sini lah pusat kota Tasikmalaya.

    Karena hari sudah sorε, kami putuskan untuk makansorε dulu sebelum mencari hotεl. Kami memilih untuk mencoba Ayam Hen-Hen lebih dulu sedaŋkan soto dagiŋ sapi H.Didi akan kami coba εsökhari. Ayam bakar dari RM Ayam Hen-Hen lezat, bumbuña benarδ meresap. Sesudah makan kami mencari hotεl. Berdasarkan saran tukaŋ parkir kami mencari hotεl Abadi di jalan Єmpaŋ.

    Hotεl Abadi tidaq begitu ramai. Tempat parkirña luas ‘tapi taqbañak mobil di situ. Kami pesan 2 kamar. Harga 1 kamar Rp 70.000 untuk tipe sètandar. Ada lagi yaŋ lebih murah. Hotεl ini bërada di jalan Єmpaŋ, agaq terpisah dari keramaian kota. Jadi agaq sepi. Hawaña sejuk, tidaq diŋin. Di sini ada kolam renaŋ ‘tapi tidaq ada aïrña. Dari baŋunanña, tampakña hotεl Abadi pernah merupakan hotεl berkelas. Kini, agaqña lebih bañak digunakan untuk siŋgah para peŋirim baraŋ antarkota. Rupaña, pariwisata kota Tasikmalaya belum begitu berkembaŋ pesat terbukti dari tidaq begitu ramaiña wisatawan yaŋ kami jumpaï atau yaŋ meŋinap di hotεl.

    Malam ini ada pertandiŋan sεpakbola antara Indonεsia melawan Malaysia yaŋ berlaŋsuŋ di sètadion Bukit Jalil di Kuala Lumpur dalam raŋka kejuaraan AFF piala Suzuki. Kami sekeluarga menonton di kamar Mama. Babak pertama bërahir 0-0. Menjelaŋ istirahat, saya pindah ke kamar saya dan menonton sendiri. Karena lelah akibat kegiatan di siaŋ-hari saya merasa saŋat ŋantuk dan jatuh tertidur. Ketika terjaga, pertandiŋan sedaŋ dalam perpanjaŋan waktu 8 menit deŋan hasil ahir 0-3 untuk kemenaŋan Maliŋsia εh Malaysia! Istri saya saŋat kecεwa. Saya tidaq sempat meñaxikan peristiwa peñorotan sinar laser dan pelεmparan mercon. Dasar Maliŋsial!

    Sehabis menonton bola, sekitar pukul 9, kami berjalan ke luar hotεl dan menjelajahi kawasan di sekeliliŋña. Serasa bërada di sebuah kota kecil 20 tahun lalu dan lalulintasña sepi. Єnak berjalan kaki di keheniŋan malam seperti ini. Taqjaüh dari hotεl Abadi, tibaδ mata kami tertumbuk pada sebuah hotεl saŋat unik: hotεl Selamat di jalan Єmpaŋ. Hotεl ini saŋat unik karena baŋunanña berupa sebuah rumah Työŋhwa (peranakan) kuno. Pintu dan jendεla bercat abuδ modεl kuno deŋan teralis bataŋδ besi, lantai dari semεn, sova kuno, di teŋahδ ada sumur dan tempat cuci yaŋ di keliliŋi kamarδ tidaq besar. Di dalam kamar ada 1 atau 2 ranjaŋ dari besi bukan spring bed! Tidaq ada pesawat TV di dalam kamar. Sεwaña murah, ‘tapi tidaq ada lahan parkir. Kata petugasña, baŋunan hotεl ini bekas asrama. Dulu, komplεk rumah ipo saya di gaŋ Kepitiŋ (jalan Kemenaŋan, Jakarta) seperti ini tataletakña. Sekaraŋ saya tidaq taü apa tah di Jakarta masih ada rumah seperti ini.

    Dari situ kami berbεlok memasuki sebuah gaŋ lalu ke jalan Єmpaŋsari. Di sini suasanaña seperti di sekitar jalan Kemenaŋan dan belakaŋ Glodok, Jakarta. Sebuah däεrah petyöŋhwan (chinatown) agaq kuno deŋan gaŋδ kecil di selaδ rumah. Di jalan kecil itu ada sebuah gerεja kecil, tempat ibadah Köŋhucu (Makin) dan gerεja GBI besar. Di depan tempat ibadah Koŋhucu ada hotεl Wisata yaŋ juga memberikan suasana romantis kuno. Kami kembali ke hotεl Abadi. Di seberaŋña, di piŋgir jalan ada penjual nasi dan mi gorεŋ yaŋ haña berjualan di malämhari. Kami mencoba nasi gorεŋña. Lezat! Habis itu kami masuk ke hotεl sebelum gerbaŋ hotεl ditutup.

    Hari Senεn 27 Dεsεmber 2010. Pagihari saya meŋganti ban mobil kiri belakaŋ yaŋ tampak kempis. Muŋkin akibat melaluï jalan rusak menuju kawasan wisata Cipanas – Galuŋguŋ. Setelah itu ber-kemasδ untuk menuju Garut. Sebelum meniŋgalkan hotεl, istri saya membeli baqcaŋ sapi dan ayam yaŋ εnak di dekat hotεl lalu membeli olεhδ di dekat situ juga. Selamattiŋgal Tasikmalaya.