Meñusuri Jejak Pasukan Napoleon di Matraman

Olεh Iwan Santosa

Saluran aïr sedalam 3 m deŋan lεbar 4 m membentaŋ di belakaŋ jalan Matraman di sepanjaŋ jalan Palmeriam 2, Jakarta Pusat, menjadi saxi bisu pertempuran berdarah pasukan Britania-India melawan pasukan Napoleon yaŋ bërintikan serdadu Prancis-Belanda dan Jawa. Tepatña [taŋgal] 26 Agustus 1811, hampir 200 tahun silam, terjadi pertempuran Mester Cornelis antara pasukan dua kekuatan adidaya dunia waktu itu: Britania deŋan Prancis.

Saluran aïr di sisi barat jalan Palmeriam 2 yaŋ meŋular ke arah selatan di dekat jalan Kemuniŋ dekat stasiun Jatinegara Timur 3 merupakan batas timur perbεntεŋan Mester Cornelis yaŋ menjadi pusat pertahanan pasukan Napoleon di Batavia.

Penulis novel intelijen Kepiŋ Rahasia Tërahir, Kolonεl (Purn) Jean Rocher, yaŋ sedaŋ meñiapkan buku sejarah peraŋ Napoleon di Jawa, meŋatakan, bagian barat bεntεŋ dibatasi suŋai Ciliwuŋ dari belakaŋ jalan Otista 1A hiŋga di ujuŋ jalan Slamet Riyadi 4. “Tεmbok utara bεntεŋ adalah wilayah di sepanjaŋ jalan Kesatrian 9 dan jalan Palmeriam,” kata Rocher yaŋ bersama Kompas, mεdio Dεsεmber 2009, meñusuri bekas lokasi pertempuran itu.

Rocher meŋumpulkan pelbagai arsip dan catatan dari pihak yaŋ berperaŋ, yaqni catatan vεrsi Prancis yaŋ dibukukan dalam L’ile de Java Sous la Domination Francaise kärya Octave J.A. Collet yaŋ diterbitkan di Brusel, Bεlgia tahun 1910 dan vεrsi Britania dari sejümlah sumber, termasuk catatan Mayor William Thorn, përwira Britania yaŋ menulis mεmoar pertempuran Mester Cornelis dalam Conquest of Java yaŋ diterbitkan di London tahun 1915.

Batavia dan pulau Jawa tersulut peraŋ yaŋ dimulaï sejak ahir 1700-an deŋan berkecamukña peraŋ Kontinεntal di Єropa antara Grande Armee di bawah pimpinan Napoleon deŋan negaraδ besar Britania, Prusia serta Rusia. Peraŋ itu ahirña berkembaŋ menjadi peraŋ dunia pada abad ke-19 yaŋ melibatkan baŋsaδ di Amεrika Latin, Avrika dan Asia yaŋ menjadi koloniδ negara yaŋ berperaŋ.

Sejarah mencatat, sejümlah pertempuran besar terjadi, seperti di Austerlitz, Waterloo, pertempuran laüt di Trafalgar di Spañol, dan pertempuran laüt di dεlta suŋai Nil (Abu Keyr/Abukir) di Mesir. Pertempuran terbesar yaŋ terjadi di Asia berlaku di Batavia, Jawa, antara 20.000 pasukan Britania deŋan 12.000 serdadu gabuŋan Prancis, Belanda dan Jawa. Namun, ujar Rocher, vakta itu terlupakan di Indonεsia dan juga di Єropa.

“Bahkan di Prancis tidaq bañak yaŋ meŋetahuï [bahwa] pasukan Napoleon pernah meŋuasaï Jawa dan berperaŋ di Batavia,” ujar Rocher.

Napoleon waktu itu –awal dasawarsa 1800– ñaris meŋuasaï Єropa, saudaraña, Joseph Bonaparte, dijadikan raja Spañol yaŋ menimbulkan perlawanan oraŋ Spañol yaŋ melahirkan konsεp peraŋ baru: gerilya /ge-ri-lya/.

Napoleon juga menjadikan sëoraŋ kerabatña [sebagai] peŋuasa Belanda yaŋ diduduki. Louis Bonaparte atau dikenal sebagai Lodewijk Bonaparte secara resmi menjadikan Belanda sebagai bagian Prancis pada 1811 menjelaŋ Britania meñerbu pulau Jawa.

Tërahir di Uŋaran
Përwira kepercayaan Napoleon Bonaparte, Herman Willem Daendels, meñiapkan perkubuan dan jalan raya pos Añer – Panarukan untuk mempertahankan Jawa dari serbuan Britania yaŋ berpusat di Madras, India. Selanjutña, Daendels digantikan Jansens. Komandan tempur dijabat olεh Jεndral Jean-Marie Jumel yaŋ dibantu sekitar 150 përwira dan prajurit Prancis.

Pertempuran tidaq sëimbaŋ terjadi, operasi amvibi Britania di Cilinciŋ pada [taŋgal] 4 Agustus 1811 berlaŋsuŋ mulus. Terjadi pertempuran di Ancol dan berlanjut di sekitar jalan Paŋεran Jayakarta pada [taŋgal] 5 Agustus dan pertempuran di Weltevreden (sekitar Gambir–Pejambon) pada [taŋgal] 9-10 Agustus.

Pasukan Britania terus maju. Pasukan Napoleon mundur ke bεntεŋ Mester Cornelis untuk bertahan dan membombardir posisi Britania yaŋ tërhenti hiŋga [taŋgal] 26 Agustus 1811. Malam taŋgal 26 Agustus, satu unit pasukan Britania bërhasil menerobos garis pertahanan Prancis di dekat jalan Kayu Manis 10, lalu meñerbu perkubuan Prancis nomor 2, 3 dan 4.

Setelah garis pertahanan jebol, beberapa përwira Prancis memilih mëŋhancurkan poudriere (gudaŋ amunisi) di dekat komplεk TNI-AD Urip Sumohardjo. Ledakan dahsyat dan oraŋ yaŋ tεwas membuat pasukan Britania haña menemukan kesuñian di sana. Itu lah sebabña tempat itu disebut gaŋ Solitude (kesuñian).

“Sisa pasukan lari ke Buitenzorg [Bogor] dan ke Semaraŋ. Pertempuran tërahir terjadi di Uŋaran,” kata Roche.

(Sumber: KOMPAS, Miŋgu 3 Januari 2010, hal. 2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar