Buddha Bar dan Kapitalisme

Oleh Ponijan Liaw

Semoga tidaq akan ada lagi praxis kapitalisme barbar di muka bumi ini.

Kecεwa, tersiŋguŋ, dan marah. Itu baraŋkali gambaran paliŋ pas perihal situasi yaŋ dihadapi umat Buddha karena keberadaan Buddha Bar di kawasan εlit Jakarta. Kehadiran bar ini bërhasil meŋgelorakan dan merekatkan semaŋat persatuan seluruh komponεn Buddhis dari berbagai tradisi dan lokasi.

Moral dan norma kehidupan

Dunia telah mencatat betapa praktik semacam ini telah meŋalami badai protεs yaŋ tiada pernah akan surut. Lihat saja, bagaimana ketika di pusat bisnis Mid Town Man Heaton di New York, akan dibaŋun sebuah bar deŋan nama Apple Mecca. Sudah begitu, rancaŋan luariah bagian depan bar tersebut meñerupaï kaqbah. Berbagai kecaman dataŋ mëŋhujani saŋ kapitalis, Apple Computer. Perusahaan yaŋ terkenal deŋan produk iPod-ña itu dituduh telah mëŋhina Islam deŋan pendirian bar dimaxud.

Di Britania ada sebuah proposal untuk membuka sebuah korporasi deŋan nama Yεsus. Perdebatan panjaŋ terjadi antara saŋ pemohon dan badan pencatatan hak mεrεk dagaŋ. Padahal, tempat itu bukan lah bar yaŋ dilaraŋ olεh hampir semua agama dan produk yaŋ akan dijual di toko itu bukan pula alkohol dan sejenisña. Yaŋ akan didagaŋkan adalah sabun, parvum, alatδ optis, logam mulia, kulit, cita, busana dsb.

Saŋ pemohon lisεnsi berdalih [bahwa] nama Yεsus adalah nama depan bañak oraŋ di Britania. Buktiña, terdapat sedikitña 27 nama Yεsus dalam London Telephon Directory. ‘Tapi, pejabat përizinan tetap bersikukuh bahwa nama itu lebih idεntik deŋan nabi pembawa agama ketimbaŋ nama pribadi masyarakat awam.

Kembali ke persöalan domεstik: Buddha Bar. Ada sebuah ironi vundamεntal yaŋ vatal di sini. Bagaimana mεrεk dagaŋ rεstoran waralaba ini bisa terdavtar di Prancis pada 26 Juli 1999, sementara negara ini menjadi tuan-rumah Konvεnsi Paris 1883 yaŋ memuat substansi pëŋhormatan tërhadap ahlak dan käidahδ kehidupan. Agaqña, negaraδ aŋgotaña perlu melakukan peninjauan kembali atas semua itu.

Dalam liŋkup Indonεsia, keberadaan Buddha Bar paliŋ sedikit bersiŋguŋan deŋan beberapa aspεk: lεgal, moral dan spiritual.
Pertama, secara lεgal, jelas sekali ia bertentaŋan deŋan UU No. 15/2001 tentaŋ Mεrεk. Pada pasal 5 (a) jelas diñatakan bahwa mεrεk tidaq dapat didavtar ‘bila mεrεk tersebut meŋanduŋ salahsatu unsur di bawah ini: bertentaŋan deŋan përaturan për-undaŋδan yaŋ berlaku, moralitas agama, kesusilaan, atau ketertiban umum.

Ambil contoh judi. Di Malaisia ada Gentiŋ Highlands, tempat resmi untuk berjudi. Apakah Indonεsia bisa meŋikutiña? Tentu tidaq! Karena ada undaŋδ yaŋ memberikan batas atas apa yaŋ bolεh dijadikan usaha dan apa yaŋ tidaq. Ada pembatasan konstitusi di sini. Jika meŋacu pada logika sedërhana tersebut, jelas kehadiran Buddha Bar dapat dipahami sebagai sebuah irisan tajam ke uluhati para peŋanut agama ini. Mwaŋthai, Siŋapura dan Malaisia saja deŋan tegas telah menolak kehadiran bar semacam ini.

Kapitalisme barbar

Bagaimana negri ini bisa meŋamini pendirianña? Produk hukum yaŋ dilaŋgar olεh pendirian bar ini adalah kesepakatan Konvεnsi Paris 1883 yaŋ telah dirativikasi deŋan Keputusan Prεsidεn RI No. 15 tahun 1977. Di sana deŋan jelas dïuraikan bahwa halδ yaŋ bertentaŋan deŋan moral dan tatanan kehidupan masyarakat tidaq bolεh mendapatkan izin.

Lebih jaüh lagi, UU No. 1/1965 tentaŋ Pencegahan Peñalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, hususña pasal 156 (a) juga meŋatur hal senada. Yaŋ paliŋ añar dipublikasikan kepada masyarakat adalah söal tempat Buddha Bar itu sendiri, yaqni geduŋ kuno bekas kantor imigrasi Belanda. Ada UU No. 5 tahun 1992 tentaŋ cagar budaya yaŋ meŋaturña di sana. Pasal 19 ayat 2 (b) menjelaskan bahwa pemanvaatan benda cagar budaya tidaq dapat dilakukan se-mataδ untuk kepentiŋan pribadi dan/atau goloŋan.

Dalam hal kepariwisataan, pemanvaatan peniŋgalan purbakala, peniŋgalan sejarah, seni budaya, menurut pasal 6 UU No. 9 tahun 1990, harus memërhatikan nilaiδ agama, adat-istiadat, serta pandaŋan dan nilaiδ yaŋ hidup dalam masyarakat. Meŋapa kedua UU ini tidaq menjadi acuan lεgal-vormal ketika përizinan pendirian bar itu akan dïεxekusi? Entah lah, yaŋ pasti KPK akan menelusuri yaŋ berkaïtan deŋan UU No. 5.

Kedua, kontradixi pendirian Buddha Bar bersiŋguŋan deŋan moralitas. Sejarah telah meŋajarkan kepada kita, ber-hatiδlah deŋan peŋgunaan lambaŋ këagamaan. Untuk itu, alaŋkah bijaxana jika sedεrεt përaturan (pusat dan däεrah) dan undaŋδ selalu dijadikan acuan sebelum sebuah lisεnsi dïεxekusi.

Sebagai penutup, kiraña hasil konverεnsi agamaδ monotεïs yaŋ disponsori Arab Saüdi di Madrid, Spañol, Juli 2008 lalu, perlu didukuŋ. Konverεnsi itu mëŋhasilkan sebuah komunikε bersama yaŋ meñerukan kepada PBB agar segera membuat kesepakatan internasional yaŋ meñatakan bahwa mëŋhina atau melεcεhkan agama laïn merupakan tindakan kriminal.

Lebih lanjut, konverεnsi yaŋ dihadiri 200 peserta dari berbagai latar belakaŋ agama itu memutuskan perlu adaña kesepahaman tentaŋ pentiŋña saliŋ mëŋhormati setiap agama dan lambaŋδ këagamaan. Semoga deŋan meŋedepankan hatinurani, tidaq akan ada lagi praxis kapitalisme barbar di muka bumi ini.

PONIJAN LIAW Pelatih dan Penulis Bukuδ Komunikasi

(Sumber: KONTAN, Selasa, 10 Maret 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar