Meŋapa Separatis Tibεt Terus Dideŋuŋkan?

Olεh Chen Pokong/The Epoch Times/whs

Tahun tigapuluhan – abad yaŋ lalu, Tentara Mεrah PKT (Partai Komunis Tyoŋkok) ketika melarikan diri melεwati perbatasan Sichuan, pernah melintasi perbatasan Tibεt. Merεka mempërolεh pinjaman bahan paŋan dan biaya peŋinapan dari oraŋδ Tibεt. Untuk itu, Mao Zedong meŋatakan, “Kita terpaxa meŋambil kebutuhan pokok dari oraŋ Tibεt, kelak harus dikembalikan.” Selaïn itu ia juga meŋatakan, “Ini satuδña utaŋ kita pada luarnegeri.” Dari sini terlihat, waktu itu, Mao pun bëraŋgapan Tibεt adalah luarnegri.

1949, (tahun kemenaŋan PKT atas saïŋanña partai nasionalis KMT) PKT meŋirim pasukan masuk ke wilayah Tibεt dan menandataŋani “17 Pasal Kesepakatan” deŋan pihak Tibεt, meŋakuï sivat kehususan agama, budaya dan politik Tibεt, menegakkan hubuŋan Tyoŋkok – Tibεt yaŋ meñerupaï “satu negara dua sistim”.

Akantetapi, tërhadap “17 Pasal Kesepakatan”, yaŋ dibuat sendiri oleh PKT – yaŋ meñerupaï “kesepakatan untuk täkluk yaŋ mana pihak lawan sudah meŋepuŋ rapat kota”, terñata [PKT] tidaq berniat mematuhiña, [malah] melaŋgarña.

Akibatña, pada [tahun] 1959 timbul pemberontakan besar raqyat Tibεt. PKT, meŋandalkan kekerasan, menindasña deŋan kejam. Dalai Lama, pemimpin tertiŋgi Tibεt, terpaxa meŋuŋsi.

Taqusah meŋulas kejadian sesudahña yaŋ mana terjadi secara besarδan pembantaian, penindasan, perusakan dan pemusnahan olεh PKT tërhadap Tibεt. Haña kita bahas pada [tahun] 1980.

Pemimpin PKT waktu itu, Hu Yaobang, [melakukan] inspεksi ke Tibεt. Sesudah ia meñaxikan deŋan mata-kepala sendiri penindasan dan penderitaan yaŋ dïalami oraŋ Tibεt, harinuraniña tërusik, lantas meŋumpulkan kader partai lokal untuk diberikan taqlimat. Ia meminta, “Harus memulihkan kondisi kehidupan Tibεt ke tarav sebelum tahun 1959”.

Dari sini tampak ñata, PKT menuduh Tibεt duluña adalah “masyarakat budak-petani (nong nu) yaŋ gelap, terbelakaŋ dan primitiv”. Masukña PKT ke Tibεt bukan saja tidaq membawa Tibεt ke kejayaan, kemajuan dan përadaban, malah mendoroŋ Tibεt ke arah juraŋ yaŋ lebih gelap, lebih terbelakaŋ dan lebih primitiv. Tibεt di bawah perusakan olεh PKT, tidaq cukup sebagai “masyarakat budak petani”, [tetapi] betulδ adalah “neraka dunia”!

Perkembaŋanña sampai hari ini, di tiga wilayah Tibεt, terus saja timbul masalah. Ini menandakan yaŋ disebut “budak petani yaŋ baŋkit”, selamaña tidaq pernah betulδ tunduk pada PKT. Ini juga menandakan, PKT dalam mëŋhadapi oraŋ Tibεt, keras di hati tanpa niat melemah, ada niat bertempur dan taqberminat berundiŋ.

Mulaï [tahun] 1978, Deng Xiaoping berniat meŋorεxi politik extrim kiri yaŋ diterapkan PKT di Tibεt.

[Pada tahun] 1979, Deng Xiaoping menemuï duta husus Dalai Lama, ia juga adalah kakaq kedua Dalai Lama yaŋ bernama Ka Lok Toinzhub. Deng meŋatakan sendiri kepada saŋ duta masalah Tibεt, “Selaïn merdεka, apa pun bisa dibicarakan.”

Namun, meŋamati kalaŋan εlit PKT saat ini, “apa pun tidaq mau dibicarakan”. Taqpeduli prinsip Dalai Lama sedemikian menjurus ke lunak dan lebih lunak lagi, dari tuntutan kemerdεkaan hiŋga bërubah ke Jalan Teŋah; dari “pola damai” ke “otonomi tiŋkat tiŋgi”; dari “satu negara dua sistim” hiŋga ke “Konstitusi RRT”, ... semuaña tidaq maü dideŋar oleh PKT, samasekali taqberbelaskasih.

Konon, salahsatu hambatan di dalam perundiŋan Tyoŋkok – Tibεt ialah pihak PKT matiδan mëŋharuskan Dalai Lama meŋakuï “Tibεt semenjak dahulu kala adalah bagian dari Tyoŋkok”.

PKT deŋan jelas meŋetahuï, sebagi umat agama Buddha, Dalai Lama tidaq muŋkin menuruti kemaüan PKT untuk berbohoŋ. Bahwa Dalai Lama meŋakuï “Tibεt adalah bagian dari RRT”, sudah menunjukkan niat baik yaŋ begitu besar. PKT deŋan seŋaja meŋeluarkan jurus meñulitkan ini, taqlaïn taqbukan [PKT] bermaxud menolak perundiŋan.

Di dalam konvrontasi ahirδ ini, Perdana Mentri RRT Wen Jiabao, [dan] Mentri Luarnegri Yang Jiechi bahkan masih meŋusuŋ pendirian Dalai Lama pada 22 tahun yaŋ lalu, yaqni pendirian 1987 (tarik mundur pasukan RRT, stop imigran εtnis Han) untuk membahas permasalahan; mëŋhindar dan tidaq meñiŋguŋ pendirian terbaru Dalai Lama sejak 2002 yaqni: berdasarkan Konstitusi RRT, merεalisasi otonomi ñata Tibεt.

Maka, muncul sebuah paradox: pada [tahun] 1949, pemerintah dan raqyat Tibεt meŋakuï diriña sebagai “Tibεt adalah negara merdεka yaŋ berdaulat”, PKT matiδan meŋatakan “Tibεt sejak dahulu kala adalah bagian dari Tyoŋkok”, sedaŋkan saat ini, ketika Dalai Lama meŋakuï “Tibεt adalah bagian dari RRT”, PKT malah menuduh pendirian Dalai Lama adalah “Separatis Tibεt”. Hasilña adalah, persöalan Tibεt: merdεka tidaq bisa, tidaq merdεka juga tidaq bisa.

Lantaran tidaq ada satu jalan pun yaŋ bisa dilaluï, wajar saja, di dalam kalaŋan oraŋ Tibεt yaŋ meŋuŋsi, terdapat aliran lunak yaŋ ”melepas kemerdεkaan” dikepalaï olεh Dalai Lama, juga ada aliran keras “kemerdεkaan” yaŋ dipelopori olεh para pemuda Tibεt.

Sikap PKT yaŋ membandel, membuat dunia luar taqhabis berpikir. Sebetulña, justru adalah PKT sendiri yaŋ membutuhkan keberadaan “separatis Tibεt”.Sikap PKT yaŋ membandel, membuat dunia luar taqhabis berpikir. Sebetulña, justru adalah PKT sendiri yaŋ membutuhkan keberadaan “separatis Tibεt”.

Sejak merebut Tibεt, dari memperbudak Tibεt hiŋga ke pemaxaan “separatis Tibεt”, PKT bolεh dibilaŋ sebagai pihak yaŋ membuat urusan ruñam lebih dulu. Kini, “separatis Tibεt” menjadi sebuah sebutan maya yaŋ meŋada dalam jümlah besar di dalam perñataan PKT, së-olahδ menjadi kesukaan Zhongnanhai (tempat tiŋgal para petiŋgi PKT).

Di dalam mεdia coroŋ PKT, oraŋ Tibεt yaŋ memrotεs PKT, semuaña disamaratakan sebagai “anasir separatis Tibεt”; oraŋ luar- maüpun dalamnegri yaŋ simpati tërhadap oraŋ Tibεt, termasuk pimpinan negara asiŋ yaŋ menemuï Dalai Lama, semuaña disebut sebagai “pendukuŋ separatis Tibεt”; tempat berpusatña oraŋ Tibεt dalam peŋasiŋan di Dharamsala, disebut “markas besar separatis Tibεt”; bendεra yaŋ melambaŋkan siŋa gunuŋ salju dari Free Tibet disebut “bendεra separatis Tibεt”; lagu tradisional Tibεt disebut sebagai “musik separatis Tibεt” ...

“Separatis Tibεt” tidaq lepas dari mulut. Kalimat tersembuñi Zhongnanhai adalah: Anda lebih baïk meŋusulkan kemerdεkaan agar saya bisa leluasa menegakkan bendεra besar patriotisme; jikalau tidaq ada sasaran tεmbak “separatis Tibεt” seperti anda ini, bagaimana saya bisa menepuk dada sebagai “patriotisme” tërhadap raqyat Tyoŋkok? Jika saya tidaq meŋibarkan tiŋgiδ panji “patriotisme”, bagaimana pula saya melawan seruan dεmokrasi dan HAM? Apabila saya taqdapat lagi membenduŋ gelombaŋ dεmokratisasi, bagaimana pula bisa mempertahankan kepentiŋan yaŋ dipërolεh partai saya dan kesejahteraan serta jabatan tiŋgi kami ini?

[Bahwa] PKT matiδan menuduh Dalai Lama sebagai “separatis Tibεt”, masyarakat internasional tentu memaqlumi, sikap PKT ini adalah seŋaja cari perkara; tetapi jurus PKT ini, sementara ini masih bisa meŋelabuï masyarakat Tyoŋkok tërutama bisa meŋelabuï para warga biasa yaŋ sedikit peŋetahuanña tentaŋ masalah Tibεt.

Dalam mëŋhadapi Dalai Lama, PKT bukan tidaq maü berundiŋ, lebih tepatña tidaq berani berundiŋ. Yaŋ paliŋ ditakuti PKT ialah, justru Dalai Lama deŋan jurus lunak menundukkan keras, iklas melepas wilayah ‘tapi memenaŋkan këadilan dan ahlak. Makadariitu, merεka meŋobral makian gaya rεvolusi kebudayaan, deŋan matiδan meŋutuk Dalai Lama bagaikan oraŋ jahat meñeraŋ oraŋ baïk.

Dalai Lama taq-hentiδña menjulurkan rantiŋ zaïtun (perdamaian), PKT toh tidaq berani meñambutña, yaŋ samarδ tampak dari luar adalah kekuasaan Hu – Wen dan kawanδ yaŋ salahtiŋkah.

Menilik lapisan pimpinan PKT pasca Deng Xiaoping, siapa pun tidaq memiliki kuasa mutlak, siapa pun taqmemiliki suara mayoritas. Olεhkarenaña, siapa pun taqada yaŋ berani meŋusuŋ perubahan haluan besar kenegaraan.

Demi meraŋkul erat posisi kekuasaan di dalam partai, haña bisa keras lawan keras, satu lebih keras daripada laïnña, tidaq untuk ditunjukkan kepada dunia luar, melaïnkan dipamεrkan kepada kalaŋan oraŋ sendiri.

Dari Jiang Zemin – Zhu Rongji sampai Hu Jintao – Wen Jiabao, semuaña matiδan mëŋhindari peŋulaŋan Hu Yaobang – Zhao Ziyang (duo Ketua Partai dan PM pada masa ahir 1980-an): diturunkan dari atas paŋguŋ karena telah membuat gerah kalaŋan kepentiŋan besar di dalam partai yaŋ taqmampu melinduŋi diriña sendiri dan akan bërahir deŋan meŋenaskan di hari tuaña.

(Sumber: Erabaru.Net, Senεn, 6 April 2009)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar