Sesama Peñoloŋ Jaŋan Saliŋ Mendahuluï

Olεh Remy Sylado

Kompas ikut membikin ramai klaimδan Indonεsia tërhadap Malaisia, mencantumkan judul lagu “Teraŋ Bulan” sebagai ciptaan oraŋ Indonεsia.

Sebelumña beberapa brodkas TV stεl yakin mencocokkan lagu kebaŋsaan Malaisia “Negaraku” deŋan lagu “Teraŋ Bulan”. Malahan [muncul] sesëoraŋ yaŋ meŋaku anak Sjaiful Bachri, pemusik Indonεsia yaŋ pernah “lari” ke Malaisia, sebagai pencipta “Teraŋ Bulan”.

Salahsatu, jika bukan satuδña mεdia pemberitaan Indonεsia pada [tahun] 1957 yaŋ memuat berita tentaŋ “Teraŋ Bulan” menjadi lagu kebaŋsaan Malaisia adalah majalah Musika no. 1 th. 1 Sεptεmber 1957. Majalah yaŋ dipimpin Wienaktoe itu menurunkan berita berjudul “Negaraku” sebagai berikut: “Melodi lagu ‘Terang Bulan’ jang kesohor itu achirnja dengan resmi diterima sebagai lagu kebangsaan Malaya pada hari kemerdekaan tanggal 31 Agustus 1957 j.l. dengan diberi nama dan tekst baru ‘Negaraku’. Pihak RRI dan Pemerintah Indonesia untuk menjatakan penghargaannja, telah melarang diputar dan dimainkan atau diperdengarkan melodi tsb pada setiap kedjadian biasa”.

Kalau kita membaca Het Nationale Volkslied olεh Margreet Fogteloo & Bert Wikie (AW Bruna Uitgevers BV Utrecht), jelas dïuraikan bahwa “Negaraku” yaŋ dulu di Indonεsia dikenal sebagai “Teraŋ Bulan” adalah ciptaan oraŋ Prancis bernama Pierre Jean de Béranger (1780-1857).

Siapa sebenarña oraŋ ini? Єnsiklopεdia pertama yaŋ terbit setelah Indonεsia merdεka, Ensiklopedia Indonesia, 1954, olεh TS Mulia dan KAH Hidding mencatat nama Pierre Jean de Béranger sebagai pencipta sejümlah lagu raqyat (Pr chanson populaire, Iŋ folk song, Bl volkslied). Di antara ciptaanña yaŋ terkenal di Indonεsia sejak zaman penjajahan Prancis di sini, Vεbruari-Agustus 1811, sampai digagaskanña Banduŋ sebagai Parijs van Java, 1925, adalah Chansons morales et autres, Chansons nouvelles, Chansons inédites.

Selama itu, peŋaruh budaya Prancis di Indonεsia, jadi bukan di Malaisia, mεmaŋ besar. Di Manado, yaŋ sekaraŋ disebut katrili, dan merupakan kesenian tradisional, bërasal dari kata bahasa Prancis quadrille. Lalu, di Banduŋ, tεater tradisional loŋsεr merupakan serapan kata bahasa Prancis [yäitu] abaδ sëoraŋ sutradara meŋucapkan longer untuk bergerak lalu.

Tetapi, di antara tokohδ seni Prancis yaŋ pernah lama mukim di Indonεsia, bukan Malaisia, adalah peñyäir terkemuka perkusor Simbolisme abad ke-19, Arthur Rimbaud. Pada [tahun] 1876 peñyäir ini tiŋgal di Salatiga sebagai serdadu batalion I invantri. Tentaŋ diriña di Salatiga bisa dibaca dalam Het Koninklijk Nederlands-Indisch Leger 1830-1950 olεh Zwitzer & Heshusius (Staatsuitvegerij’s-Gravenhage).

Salahsëoraŋ sahabat Rimbaud, René du Bois, bahkan menetap di lεrεŋ gunuŋ Uŋaran sampai tua, dan termasuk yaŋ dikunjuŋi Mata Hari (Margaretha Geertruide Zelle) saŋ ‘polyglot harlot’ yaŋ dïεxekusi mati olεh peŋuasa Prancis pada Peraŋ Dunia I sebagai mataδ.

Maüña, deŋan sekelumit gambaran ini, jaŋan sampai gaïrah klaimδan Indonεsia tërhadap Malaisia lantas melupakan peribahasa “semut di seberaŋ laüt tampak gajah di depan mata taqtampak”. Sebab, kita juga puña kebiasaan ñoloŋ.

Sebagai pembuka iŋatan, përhatikan dua lagu yaŋ dïaŋgap memiliki pathos kebaŋsaan, yäitu lirik “Dari barat sampai ke timur berjajar pulau-pulau”, dan “’Kulihat Ibu Pertiwi sedaŋ bersusah hati”. Yaŋ pertama meŋiŋatkan lagu Prancis ciptaan Rouget de Lisle. Mεmaŋ haña bagian depan, bagian yaŋ sama dimanvaatkan Beatles juga.

Tetapi yaŋ kedua, “’Kulihat Ibu Pertiwi sedaŋ bersusah hati”, adalah 100% pencurian atas lagu gerεja “What a Friend We Have in Jesus”. Tidaq taü apa ilusi grup musik perempuan asal Surabaya, Dara Puspita, pada [tahun] 1960-an meñañikanña menjadi “Ibu Pertiwi sedaŋ bersusah”. Lagu himne ini asliña diciptakan olεh Horatius Bonar pada lirik dan Charles Crozat Converse pada musik, dan dicatat hak ciptaña pada [tahun] 1876 lεwat Biglow & Main.

Harapanña, dalam klaimδan yaŋ sedaŋ panas sekaraŋ ini, jaŋan pula melahirkan pemεo baru “Sesama pencuri jaŋan saliŋ mendahuluï”. Sebab, ujuŋña kalau urusan marahδ ini dibεbεrkan deŋan perkaraδ plagiat yaŋ terñata tidaq sepi di Indonεsia, maluña harus ditaŋguŋ bersama.

Sekadar contoh laïn untuk meŋiŋatkan itu, pada [tahun] 1971 Markas Besar Aŋkatan Darat, ditandataŋani olεh Brigjεn Soerjadi, telah membuat malu [deŋan] memberi piagam kepada Ismail Marzuki sebagai komponis yaŋ disebut mencipta lagu “Auld Lang Syne”. Perixa Lagu-lagu Pilihan Ismail Marzuki, olεh WS Suwito, Titik Terang, Jakarta. Tentu saja ini ŋawur yaŋ meñedihkan. Lagu “Auld Lang Syne” itu ñañian tradisional Skot yaŋ digubah olεh Robert Burn dan dicatat penciptaanña melaluï Preston & Son, London, 1799.

Sebelum itu, Ismail Marzuki disebut juga sebagai pencipta lagu “Als die orchideeën bleien” dan “Panon Hideuŋ”. Padahal, lagu yaŋ pertama, yaŋ kemudian berlirik bahasa Indonεsia “Buŋa aŋgrεk mulaï timbul”, adalah ciptaan Belloni, pemimpin orkεs Concordia Respavae Crescunt, yaŋ diñañikan olεh Nona Lie pada [tahun] 1922.

Yaŋ kedua, “Panon Hideuŋ” adalah lagu tradisional Rusia, dïaransemεn di Amεrika olεh Harry Horlick & Gregory Stone dan masuk hak cipta pada [tahun] 1926 di bawah Carl Fischer, Inc, lalu diperkenalkan di Indonεsia, melaluï Banduŋ pada tahun yaŋ sama olεh pemusik Rusia bernama Varvolomeyev.

Termasuk Prεsidεn RI Soekarno, pada [tahun] 1961 membuat kesalahan memberikan Piagam Widjajakusuma kepada Ismail Marzuki, yaŋ meñebut dalam piagam itu bahwa lagu “Hallo-hallo Banduŋ” adalah ciptaan Ismail Marzuki. Padahal, lagu itu asliña ciptaan sëoraŋ prajurit Siliwaŋi bernama Lumban Tobing yaŋ diñañikan bersama peleton Batakña dari long march Yogya-Banduŋ di zaman rεvolusi. Tentaŋ kematianña bisa dilihat lukisanña di Musium Siliwaŋi, Jl. Lemboŋ, Banduŋ.

Lagu “Hallo-hallo Banduŋ” ciptaan Lumban Tobing ini haña sama judul, ‘tapi berbεda mεlodi dan lirik dari lagu Belanda ñañian Willy Derby pada [tahun] 1929 ketika radio NIROM (Nederlands Indische Radio Omroep Maatschappij) bëroperasi di Banduŋ. Vεrsi baru rekaman ini diñañikan lagi olεh Wieteke van Dort di TV Belanda dalam De Stratemakeropzeeshow, 1972, dan dicεtak syäirña pada [tahun] 1992 dalam De Wduwe van Indië.

Nah, “Teraŋ Bulan” juga tersua dalam De Wduwe van Indië dalam dua syäir, yäitu bahasa Indonεsia gaya KNIL dan bahasa Belanda. Kita baca syäir yaŋ pertama saja.

Terang boelan
terang lah di kali
Boewaja timboel
katanja lah mati
Djangan pertjaja
orang lelaki
Brani soempa
dia takoet mati
.

Asal saja syäir lama di atas tidaq jadi εjεkan kepada kita, Indon, sebagai “brani soempa, dia takoet mati”. Kalau ada tuduhan begitu, rasaña εlok diiŋat teriakan Buŋ Karno dulu, “Gañaŋ Malaisia!”.

REMY SYLADO Peŋamat Musik, Novelis, Dramawan

(Sumber: KOMPAS, Miŋgu, 6 Sεptεmber 2009, hal. 28)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar