Jaŋan Paŋgil Aku Cina !!!

Olεh Yustus Martubongs

Kataδ ini pernah diteriakkan deŋan nada tiŋgi olεh sëoraŋ teman perempuan sewaktu SMP dulu. Saya sudah lupa namaña, tetapi deŋan mataña yaŋ sipit, kulit beniŋ dan pipi kemεrahan, terlihat sebuah protεs atas nama penolakan ketika dikatakan Cina. Entah lah, waktu itu saya belum meŋerti kenapa ia begitu marah. Waktu itu, saya juga belum terlalu taü, apa lah arti sebuah minoritas. Yaŋ kami taü, kami berbεda! Kebetulan ini terjadi di Ambon. Dan tentu saja kehadiran sëoraŋ wanita berkulit kuniŋ laŋsat di teŋahδ kelas kami yaŋ sebagian besar muridña berkulit hitam manis saŋat lah mencolok.

Kejadian ini terjadi kiraδ belasan tahun y.l. Dan saya benarδ taü kenapa teman saya begitu marahña dipaŋgil Cina ketika [terjadi] kerusuhan Jakarta [pada] bulan Mεi tahun 1998. Dari televisi saya melihat deŋan perasaan sedih tokoδ dijarah, perempuanδ yaŋ seriŋ dikatakan Cina itu diperkosa olεh para perusuh yaŋ tidaq taü adabña.

Setahun kemudian, ketika terjadi kerusuhan di kota Ambon, lagiδ kawanδ dari εtnis Työŋhwa menjadi korban di antara pertikaian antäragama. Toko dan usaha merεka dibakar, dijarah dan dihancurkan oraŋδ yaŋ bertikai atas nama iman. Beberapa kawan keluar dari kota Ambon tetapi ada yaŋ bertahan sampai sekaraŋ. Setelah sekian lama berpisah, lεwat situs pertemanan Facebook, saya menemukan merεka kembali. Tidaq ada yaŋ namaña peñesalan atau pun dendam. Yaŋ ada haña lah kalimat, “Bεta lahir dan besar di sini!”

Jaŋan lagi minoritas
Sampai saat ini, saya tetap berteman deŋan kawanδ dari εtnis Työŋhwa itu entah di gerεja, klub musik, kenalan, atau apa saja. Jika ditaña, tidaq ada yaŋ vasih berbahasa Mandarin. Tidaq ada yaŋ lahir dan besar di Tyoŋkok. Tidaq ada yaŋ taü dan haval lagu kebaŋsaan Tyoŋkok. Tidaq ada yaŋ hampir setiap hari makanña pakai sumpit. Tidaq ada yaŋ memakai kaüs bertuliskan “I Love China” seperti kaüs “I Love New York”.

Yaŋ ada haña lah: merεka sekolah di Indonεsia, mempergunakan bahasa Indonεsia, meŋgunakan dialεk yaŋ sesuai deŋan karakter penduduk setempat – dialεk Manado, Makasar, Ambon, Betawi dsb. Meñañikan lagu kebaŋsaan “Indonεsia Raya” bukanña lagu “San Min Chu I” (Tiga Prinsip Raqyat). Kesempatan untuk memperkenalkan budaya dan εtnis merεka haña lah terlihat saat perayaan tahunbaru Ïmlεk – ucapan yaŋ benar, bukan tahunbaru Cina. Bahkan, perayaan Capgomε seperti yaŋ seriŋ saya lihat di Manado, menjadi bagian dari promo pariwisata pemerintah setempat.

Kalau maü buka mata lεbarδ tentaŋ nasionalisme Indonεsia, saudaraδ dari εtnis Työŋhwa ini muŋkin lebih indonesiawi daripada kita. Lihat lah pada setiap pertandiŋan bulutaŋkis seperti [kejuaraan] Piala Thomas-Uber kemarin. Jujur saja, hampir 90% pemaïn bulutaŋkis kita adalah εtnis Työŋhwa. Mulaï dari zamanña Rudi Hartono, Liem Swie King, Alan Budi Kusuma, Susi Susanti sampai generasi Hendra sekaraŋ ini. Merεka deŋan penuh semaŋat meñañikan lagu Indonεsia Raya, deŋan aïrmata dan taŋan disilaŋkan di dada pada lambaŋ Garuda Pancasila. Ironisña, setiap pertandiŋan, merεka selalu bërhadapan deŋan timnas Tyoŋkok. Coba bandiŋkan deŋan kita yaŋ meŋaku Indonεsia asli ini namun jaraŋ mëŋhargaï bendεra, lagu dan bahasa kebaŋsaan.

Ber-puluhδ tahun, saudaraδ kita dari εtnis Työŋhwa ini berjuaŋ untuk sebuah peŋakuan akan kesetaraan sebagai warganegara Indonεsia. Kisahδ tentaŋ perlakuan diskriminativ [dalam] peŋurusan KTP, kartu keluarga atau pun kewarganegaraan selalu berbenturan deŋan kepentiŋan kekuasaan dan kezaliman peŋuasa.

Puji Tuhan, syukur Alhamdulilah, pada masa kepemimpinan almärhum Prεsidεn Gus Dur, masaδ kelam itu berlalu. Trauma kerusuhan Mεi mεmaŋ sulit untuk dilupakan tetapi secercah harapan mulaï membentaŋ. Köŋhucu dïakuï sebagai salahsatu agama resmi di Indonεsia dan tahunbaru Ïmlεk ditetapkan sebagai libur nasional sebagai bentuk pëŋhargaan. Pelan namun pasti, segala bentuk përaturan yaŋ berbaü rasial mulaï dihapuskan. Єtnis Työŋhwa pun masuk ke dalam semua sεktor tidaq haña përεkonomian. Peŋurus partai politik, artis, olähragawan, dan ‘bila perlu jadi prεsidεn sekalipun.

Yaŋ membaŋgakan, bañak tokohδ keturunan Työŋhwa ini menjadi insèpirasi bagi generasi baŋsa dan bañak berjasa untuk baŋsa dan negara ini pula. Muŋkin tidaq bañak generasi muda yaŋ taü bahwa Daniel Yahya Dharma (John Lie) ahirña ditetapkan sebagai pahlawan /pa-hla-wan/ nasional keturunan Työŋhwa pertama. Bañak aktivis muda sampai sekaraŋ masih membawa semaŋat Soe Hok Gie, mahasiswa Universitas Indonεsia, yaŋ kisahña kemudian divilemkan. Koran Kompas, yaŋ membawa semaŋat mencerdaskan baŋsa, awalña pun dirintis olεh sëoraŋ εtnis Työŋhwa, Auwjong Peng Koen, atau yaŋ [lebih] kita kenal deŋan nama PK Ojong (Petrus Kanisius Ojong).

Kalau maü ditelusuri lagi, terlalu bañak jasa εtnis Työŋhwa yaŋ dibuat untuk baŋsa ini. Sayaŋ kalau terlalu seriŋ saudaraδ kita ini diperlakukan tidaq adil dan diskriminativ. Kenapa? Karena merεka ini sudah hidup dalam minoritas dalam εtnisña sendiri lalu ahirña diperlakukan saŋat minoritas olεh baŋsa Indonεsia. Seperti artikel Jaya Suprana (Kompas 15/5), di masyarakat keturunan Työŋhwa di Indonεsia, juga masih ada diskriminasi. Merεka ter-pecahδ menjadi anεka ragam suku, antaralaïn Khεq, Köŋhu, Tyocyu, Hakka dan Babah. Ada juga [yaŋ] membagi menjadi dua kelompok besar: keturunan asli dan yaŋ tidaq asli. Jadi, merεka lebih baŋga deŋan lambaŋ semaŋat Bhinnεka Tuŋgal Ika bukanña idεologi Komunis seperti di Tyoŋkok.

Jadi, jaŋan paŋgil merεka Cina, tetapi Saudara! Saudara sebaŋsa dan setanähaïr, tanähaïr Indonεsia.

Salam Damai untuk Indonεsia Maju!

(Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2010/05/17/jangan-panggil-aku-cina/ )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar